28 Januari 2017

Emansipasi Wanita dalam Islam

author photo

Emansipasi Wanita dalam Islam

Oleh: Mukhlas Al Bastamy

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul turunnya ayat tentang pertanyaan para wanita: “Mengapa dalam Al-Qur’an disebutkan para laki-laki sementara para wanita tidak?” Dari Ibnu Abbas ra, maka turunlah ayat ini.

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar"

Jauh sebelum mempoklamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat wanita dari masa pencampakan wanita di era jahiliah ke masa kemuliaan wanita.


Dari ayat di atas kita bisa melihat betapa Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki. Semua sama di hadapan Allah.swt, dan yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangnnya.

Emansipasi Wanita dalam Islam

Sering kita mendengar pemahaman emansipasi wanita yang digembar-gemborkan jamak orang barat yang mengatasnamakan hak asasi manusia. Mereka menyebutkan bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan hak dengan kaum pria, padahal tidak semua hak wanita harus disamakan dengan pria, karena Allah.Swt telah menciptakan masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Persamaan hak untuk dilindungi oleh hukum, mendaptkan gaji yang setara dengan laki laki jika berada di kedudukan atau kemampuan yang sama.

Pernyataan di atas bisa menjadi salah satu contoh dibolehkannya persamaan hak dengan kaum pria. Dan adapun makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri.

Hingga saat ini, kebanyakan wanita Indonesia, khususnya yang berada di daerah pedesaan dan sektor informal - mereka belum menyadari makna dari emansipasi wanita itu sendiri. Beberapa faktor penentunya (akibat normatif ) antara lain:
terbelenggu persepsi etika,
moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio kultural.

Semua ini menjadi serba keliru. Belenggu budaya itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri.

Islam juga telah mengabadikan nama wanita yang dalam bahasa Arab An-nisa (النساء) ke dalam salah satu surat dalam alquran, dan islam juga tidak melarang wanita untuk berperang atau berjihad di jalan Allah.Swt melawan orang-orang kafir.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat wanita terkemuka Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ra berkata, “Kami pernah bersama nabi SAW dalam peperangan, kami bertugas memberi minum para prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke Madinah.”

Ummu Haram ra, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, ia berkata, “Nabi SAW bersabda, 'Sejumlah orang dari umatku menawarkan dirinya sebagai pasukan mujahid fii sabilillah. Mereka mengarungi permukaan lautan bagaikan raja-raja di atas singgasananya.'”

Lalu tiba-tiba Ummu Haram ra berkata, “Ya Rasulullah, semoga mendoakan engkau agar saya termasuk diantara mereka itu.”

Lalu Nabi SAW. pun mendoakannya.

Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam alquran bahwa jamak dari musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara supaya umat Islam mengikuti millah (sistem hidup) mereka hingga mereka ridha (QS Albaqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi Islam dan segala yang berbau Islam, kalau dapat memurtadkan kita dari Islam (Albaqoroh 217 dan Alburuuj 8).

Emansipasi Wanita dalam Islam

Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini (kebanyakan telah menyimpang jauh dari Allah dan Rasul-Nya), dan kehilangan jati dirinya sebagai muslimah adalah hasil dari rekayasa mereka yang menghendaki ajaran Islam itu kabur, sulit difahami dan terkesan kolot (terbelakang) serta menghambat kemajuan.

Guna mendukung semua itu merekapun merekayasa, para ‘cendekiawan muslim’ yang lemah iman untuk mendukung program mereka dan menimbulkan keraguraguan umat. Para wanita yang dalam Islam sangat dihormati dan dimuliakan digugat.

Aturan-aturan Islam yang tinggi dan sempurna dituding sebagai biang keladi ‘terbelakangnya’ para wanita Islam. Musuh-musuh Allah yang lantang meneriakkan isu hak asasi, kebebasan, modernisasi, dan persamaan inipun menyerang masalah poligami,hak menthalaq, hak warisan, masalah hijab, dan sebagainya sebagai hal-hal yang melemahkan Islam.

Islam dikatakan telah merendahkan harkat dan martabat wanita, sedang Barat lah yang mengangkat dan memuliakannya. Coba pembaca bandingkan dunia Islam dan dunia Barat, pada satu sisi mereka maju di bidang duniawi yang pernah dimiliki kejayaan Islam. Namun di sisi lain, hubungan-hubungan sosial mereka (misal: hubungan antara masyarakat, suami dan istri orang tua dan anak dan lain sebaginya ), Islam memiliki kelebihan.

Pada akhirnya sebagai wanita mulimah untuk selalu menyiapkan dan meningkatkan kualitas keislaman kita, agar kita tidak terpengaruh dengan slogan- slogan barat yang akan menghancurkan pilar-pilar Islam dan menyilaukan mata kita.

Selamat hari Kartini semoga wanita Indonesia bisa lebih meningkatkan khazanah keislamannya dan menghasilkan karya-karya besar untuk kemajuan Indonesia dan Islam pada umumnya. Semoga Bermanfaat ...

Sumber: https://www.facebook.com/khusus.muslimah/posts/653330491354927

1 komentar:

Bagi yang berminat, silakan berkomentar — Terima Kasih :)
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *