11 Juli 2016

Kisah Khalid Bin Walid: Panglima Perang yang Diberhentikan Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, terdapat seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan.

Panglima perang yang takpernah kalah sepanjang karirnya dalam memimpin bala tentara di peperangan. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraisy ataupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim.

Dia adalah Jenderal Khalid bin Walid. Namanya harum ke seluruh jazirah Arab. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya.

Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid! Hidup Jenderal! Hidup Panglima Perang! Hidup Pedang Allah yang Terhunus!"

Ya! Beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan Khalid Bin Walid pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang.

Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. Itulah Khalid bin Walid. Beliau bahkan tidak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Terdapat sebuah kisah menarik tentang Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat.

Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di BERHENTIKAN sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang Panglima sangat gusar hingga takbisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemberhentianya.

Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliau senantiasa segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemerhentian. Apa betul saya di berhentikan?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah diberhentikan itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya diberhentikan? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya diberhentikan?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, Engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong."

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya berhentikan. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. Mengucapkan terima kasih setelah diberhentikan, padahal Khalid Bin Walid tidak berbuat kesalahan apapun.

Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu?

Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan diberhentikan dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Hebatnya lagi yang terdapat pada sosok Khalid Bin Walid, pasca diberhentikannya sebagai panglima perang, beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang.

Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya di masa lalu.
Kisah Khalid Bin Walid: Panglima Perang yang Diberhentikan Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan

Kisah Khalid Bin Walid: Panglima Perang yang Diberhentikan Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah diberhentikan.

Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah diberhentikan."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.” [|]

Artikel Terkait


Kisah Khalid Bin Walid: Panglima Perang yang Diberhentikan Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email