06 Januari 2014

Sahabat Rasulullah Saw.: Abu Bakar As Shidiq Rodhiallahu 'Anhu

Inilah kisah Sahabat Rasulullah Saw.: Abu Bakar As Shidiq Rodhiallahu 'Anhu - Namanya selalu tertulis setelah nama Nabi Muhammad Saw.
Dia adalah pemimpin utama ummat muslim setelah Rasulullah....
Dia orang yang selalu mengerjakan sholat dan bersujud sepanjang malam...
Dia orang yang berjalan dengan rasa aman di hari kiamat nanti...
Dia yang menafkahkan hartanya untuk memperluas wilayah islam dan berperang demi Risalah Islam...
Dia orang yang selalu memberi, bertakwa dan berbuat jujur dengan kebaikan.
Dia-lah yang dimaksud dalam ayat berikut: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya”. (QS. Al Lail:17-19)
Dia selalu mengikuti jalan yang lurus dan menjadikan Zat yang Maha Mulia (Allah) sebagai tempat kembali...
Dia-lah yang diberi julukan khalîl Rasulillah (Kekasih Rasululah)SAW... dan selalu menjawab panggilan Allah dan Rasulullah Saw....
Dia memiliki sikap yang sangat zuhud dalam kehidupan duniawi dan sangat mencintai kehidupan ukhrawi...
Dia-lah orang yang mendapat Ridha Tuhannya dan sangat takut kepada-Nya....
Dia-lah orang yang selalu dipercaya karena ketulusannya...
Dia hamba Allah yang sangat menyayangi ummat
Dia-lah yang memiliki akhlak yang sangat mulia setelah para Nabi dan para Rasul....
Dia adalah laki-laki pertama yang masuk islam....
Dia adalah sahabat yang paling dicintai oleh Nabi Saw....
Dia-lah yang pertama kali masuk syurga setelah para Nabi dan para Rasul....
Dan dia ummat islam pertama yang masuk syurga.....
Dialah sesepuh utama yang dihormati kaum muhajirin dan kaum Anshar....
Dia murid pertama yang mendapat bimbingan langsung dari pendidikan Rasulullah Saw....
Dia orang yang sangat dipercaya...
Dia sahabat karib Rasulullah...
Dia memiliki hati yang sangat lembut...
Dia sosok yang penuh kasih sayang...
Dia-lah yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Allah....
Dia-lah.. yang kelak dibebaskan dari api neraka....

Semua yang tertulis di atas gambaran tentang sosok Abu Bakar as-Shiddiq r.a. Abu Bakar mendengar langsung berita tentang risalah islam dari sang pembawa panji kebenaran –Muhammad Saw, dan membuka pendengaran, mata hati dan akalnya untuk menerima kebenaran itu...

Kemudian dia masuk Islam lalu meninggalkan patung-patung berhala, meninggalkan sahabat-sahabatnya yang masih dalam keadaan jahiliyah, dan dia memutuskan untuk menerima kebenaran islam. Setelah beliau kembali dalam keadaan beriman dan membenarkan islam, Abu bakar menyampaikan berita gembira itu kepada Utsman, Talhah, Zubeir, dan Sa’ad. Kemudian merekapun masuk islam. Setelah itu, di hari kedua setelah Abu Bakar masuk islam, dia mendatangai Utsman bin ma’zhûn, Abu Ubaidah bin jarrâh, Aburrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad dan al-Arqam bin al-Arqam. Kemudian mereka juga masuk islam.
 
Berita masuk islamnya Abu bakar sampai kepada orang-orang kafir Quraisy. Setelah itu mereka langsung menunjukkan api kemarahan dan kegusaran. Mereka bersumpah untuk mencelakakannya. Mereka mengecam dan memperolok-oloknya. Padahal dia termasuk petinggi yang di taati di kalangan suku Quraisy, dan memiliki perilaku yang sangat luhur.
 
Bahaya semakin mengancam keselamatan Abu bakar as-Shiddiq RA, hingga membuatnya terpaksa berhijrah menuju negri Habsyah. Akan tetapi ketika sampai di Baraka al Ghamâd , Dia bertemu dengan Ibnu ad Dighinnah yang merupakan seorang petinggi di sana. Kemudian dia berkata: “Hendak pergi kemana Engkau wahai Abu Bakar?” Lalu Abu Bakar menjawab: “Aku telah diusir oleh kaummu. Dan aku ingin mencari tempat yang tenang agar aku bisa menyembah Tuhanku”. Kemudian Ibnu ad Dighinah berkata: “Sesungguhnya orang seperti engkau tidak layak keluar dan tidak layak diusir wahai Abu Bakar. Karena engkau telah meolong orang-orang yang tidak mampu, Engkau telah menyambung tali silaturrahmi dan menjamin orang-orang yang lemah . Engkau menghormati tamu dan memberi pertolongan pada orang-orang yang tertimpa musibah . Karena itu kembalilah, dan sembahlah Tuhanmu di negrimu.
 
Setelah itu Abu Bakar kembali (ke mekkah)dan Ibnu ad-Dighinnah ikut bersamanya. Sesampainya di sana, Ibnu ad-Dighinnah mendatangi para kafir Quraisy dan berkata: “Sesunguhnya Abu bakar tidak layak keluar dan tidak layak dikeluarkan. Apakah kalian rela mengeluarkan orang yang telah memberi pertolongan kepada orang-orang yang tidak mampu dalam suku kalian, menjamin orang-orang lemah, menghormati tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah?”.
 
Kemudian orang-orang Quraisy itu tunduk kapada Ibnu ad- Dighinnah dan memberi suaka keamanan bagi Abu Bakar. Lalu mereka berkata: “Kalau begitu, perintahkanlah Abu Bakar untuk kembali ke rumahnya dan menyembah Tuhannya. Dia boleh shalat kapanpun dia mau, Dia boleh membaca (al-Qur`an) sesuka hatinya asalkan tidak mengganggu kami, akan tetapi dia tidak boleh melaksanakan shalat dan membaca alQur`an di luar rumahnya”. Setelah itu Abu Bakarpun melaksanakannnya.
 
Setelah beberapa waktu, Abu Bakar membangun sebuah masjid di halaman rumahnya. Dan Rasulullah shalat di dalamnya. Hal tersebut disaksikan oleh para kaum wanita dan anak-anak dari kalangan suku Quraisy yang tertegun dengan penuh rasa kekaguman. Mereka juga menyaksikan kelembutan hati Abu Bakar yang tidak bisa menahan tangis ketika membaca al-Qur`an. Hal tersebut membuat suku Quraiy merasa khawatir. 
 
Kemudian mereka mengutus seseorang untuk menemui Ibnu ad-Dighinnah dan berkata: “Sesungguhnya kami meminta jaminanmu agar Abu bakar hanya Menyembah Allah di dalam rumahnya, akan tetapi dia telah melewati batas itu dengan membangun masjid di halaman rumahnya, dan mengerjakan shalat secara terang-terangan. Tentu saja kami takut ini akan menimbulkan fitnah bagi istri-istri dan anak-anak kami. Karena itu, jika dia ingin kami melindunginya, mintalah untuk membatasi aktivitas ibadahnya kepada Allah hanya dalam rumahnya saja. Akan tetapi jika dia menolak, dan tetap melakukan ibadah secara terang-terangan, maka putuskanlah jaminanmu untuknya (mereka tidak bisa melanjutkan perjanjian yang dulu telah disepakati-red). 
 
Sesungguhnya kami tidak ingin keluar dari kesepakatan kami denganmu . Akan tetapi kami tidak bisa membiarkan Abu Bakar untuk beribadah secara terang-terangan. Kemudian Ibnu ad-Dighinnah mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya engkau telah mengetahui perjanjian yang telah aku buat denganmu. Engkau bisa membatasi ibadahmu hanya di dalam rumahmu, atau aku mencabut jaminanku untukmu. Sesungguhnya aku tidak ingin mendengar bangsa Arab berkata bahwa sesungguhnya aku telah melanggar perjanjian yang telah aku buat dengan seseorang.”

Lalu Abu Bakar berkata: “Baiklah. Kalau begitu aku kembalikan suaka perlindunganku kepadamu, aku lebih suka meminta suaka perlindungan Allah.” 
 
Umar berkata: “Demi Allah, ada sebuah malam yang dilalui oleh Abu Bakar dan malam itu lebih baik dari seluruh malam yang dilalui keluarga Umar dan sebuah hari yang dilalui Abu Bakar juga lebih baik dari seluruh hari yang dilalui keluarga Umar.”
 
Mari kita tafsirkan ucapan al-Farouq RA di atas. Yang dimaksud dengan malam disini adalah malam ketika Abu Bakar mendampingi Rasulullah SAW hijrah. Abu Bakar telah bersiap-siap untuk menemani Rasulullah Saw menuju kota Madinah. Kemudian Rasulullah Saw berkata: “Tunggulah sejenak ! Karena aku ingin Allah memberiku izin (Rasulullah kaluar dari kota Mekkah menuju Madinah setelah Allah perintahkan-pent)”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Sungguh! Apakah engkau benar-benar meminta itu?”
 
Nabi menjawab: “ya”
 
Kemudian Abu Bakar menahan dirinya agar bisa menemani Rasulullah SAW. Setelah itu dia memberi makan dua ekor unta dengan daun-daun kering –yang telah dipakai sebagai cambuk- selama empat bulan .
 
Lalu Aisyah RA berkata: “Ketika kami sedang-duduk-duduk di suatu siang hari yang sangat terik di rumah Abu Bakar, seseorang berkata kepada Abu Bakar: “Mengapa Rasulullah Saw mendatangi kita dengan menyaru?”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Aku bersumpah untuknya demi Ayah dan ibuku. Demi Allah, pasti itu karena wahyu perintah telah turun kepadanya”. 
 
Kemudian Aisyah melanjutkan: “Lalu Rasulullah SAW datang dan meminta izin (memberi salam). Abu Bakar menjawab salamnya dan mempersilahkannya masuk. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar: “Suruhlah orang-orang (wanita-wanita) yang ada di ruanganmu untuk masuk ke dalam wahai Abu Bakar?”. 
 
Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi Ayahmu Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka adalah keluargamu”. 
 
Kemudian Nabi SAW berkata: “Sesungguhnya Aku telah Diizinkan untuk berhijrah”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi Ayahku dan Demi Engkau wahai Rasulullah, engkau perlu ditemani”. Rasulullah berkata: “ya”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Kalau begitu, ambillah salah satu dari kedua untaku ini (yang telah dipersiapkan-pent)”. Kemudian Rasulullah SAW berkata: “aku akan membayarnya”. Lalu Aisyah berkata: “kami segera menyiapkan kedua unta itu”. Dan kami juga menyiapkan ransum makanan yang dikemas dalam tas. 
 
Kemudian Asma’ binti Abu Bakar memotong tali pinggangnya (Nithâq) dan mengikatkannya di ujung tas itu. Karena itulah ‘Asma mendapat julukan dzât an Nithâq (Wanita yang memiliki ikat pinggang).
Aisyah berkata lagi: “Kemudian Rasulullah SAW dan Abu Bakar sampai ke sebuah Gua di Jabal Tsur. Dan mereka bermalam disana selama tiga malam. Sementara Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk menjaga pintu Gua.
 
Abdullah bin Abu Bakar adalah seorang pemuda yang berpendidikan , cerdas dan cerdik . Abdullah kembali dari tempat Abu Bakar dan Nabi bersembunyi pada waktu menjelang pagi (sahar) . Dan keesokan paginya dia terbangun (sehingga terlihat dimata) kaum Quraisy seperti seorang yang tidak keluar. Setelah itu dia (mendengarkan seluruh rencana kaum Quraisy) untuk mencelakai kedua orang itu . Tidak ada satupun berita yang terlewati. Ketika hari telah gelap , dia menyelinap untuk menemui Nabi Saw dan Abu Bakar dan menyampaikan beria-berita yang dia dengar. Selama Abdullah bin Umar tidak ada, ‘Amir bin Fahirah Pembantu Abu Bakar berganti menjaga keduanya sambil menggembala seekor kambing (agar mereka bisa meminum susunya-pent). Dia menjaga Nabi dan Abu Bakar hingga mereka bisa beristirahat dengan tenang, hingga memasuki waktu shalat isya....
 
Abu Bakar juga menceritakan kepada Kami (Aisyah)apa yang terjadi di tengah jalan. Beliau berkata: “Kami bertolak dari Mekkah dengan diam-diam –sembunyi-sembunyi- di malam dan siang hari, sehingga datang waktu zuhur, di saat terik matahari menyengat. Kemudian aku melemparkan pandanganku untuk melihat adakah bayangan yang bisa kami gunakan untuk berteduh? Akan tetapi di sekeliling kami adalah gurun pasir. 
 
Kemudian aku melihat bayangan pohon. Aku membersihkannya serta meletakkan sepotong kain untuk Nabi SAW. Kemudian aku berkata kepada Nabi SAW: “Berbaringlah wahai Nabi Allah”. kemudian Nabi SAW berbaring. Setelah itu aku melihat sekelilingku, untuk memastikan jika ada seseorang yang mengejar kami.
Lalu aku melihat seorang penggembala kambing yang mengembalakan kambingnya di padang pasir. Dia Juga mencari tempat berteduh. Kemudian aku bertanya kepada dia: “Milik siapakah ini (kambing) wahai anak muda?”. Pemuda itu menjawab: “milik salah seorang suku Quraisy”. Lalu pemuda itu menyebut nama tuannya dan aku mengenalinya. Aku berkata lagi kepadanya: “Apakah kambingmu punya susu?”. Dan dia menjawab: “ya”. 
 
Kemudian aku bertanya lagi: “Bolehkah kami meminta susu dari kambingmu?”. Dan dia menjawab: “ya”. Kemudian aku menyuruhnya (mengambil susu). Dia memilih satu ekor kambing betina. Dan aku menyuruhnya membersihkan tetek kambing itu dari debu. aku juga menyuruhnya untuk membersihkan kedua tangannya. Lalu pemuda itu berkata: “begini” dan dia menepuk-nepuk kedua tangannya. Kemudian dia memberikan kami hasil perahan(katsbah) dari susu. Dan aku membuat sebuah bejana yang dikelilingi oleh kain tebal (untuk mendinginkan susu)untuk Rasulullah SAW. Lalu aku tuangkan susu. Dan aku biarkan sejenak hingga susu itu dingin. 
 
Kemudian aku membawanya kepada Rasulullah SAW. Dan aku mendapatinya telah terbangun dari tidurnya. Kemudian aku berkata: “Minumlah Wahai Rasulullah!. Beliau meminumnya hingga aku rasa cukup. Lalu aku berkata: “Sekarang mari kita berangkat wahai Rasulullah”. Rasulullah berkata: “Baiklah”. Kemudian kami bertolak. Dan tiba-tiba sekelompok orang menghadang kami. Dan kami tidak mengenali satu orang pun dari mereka kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syam yang berada di atas kuda. Lalu aku berkata: “Akhirnya kita bertemu juga dengan para penghadang ini wahai Rasulullah!”. Kemudian Rasulullah berkata: “Janganlah engkau takut, sesungguhnya Allah bersama kita” .
 
Kemudian semangat kepahlawanan Abu bakar RA muncul. Dan ketika Abu Bakar keluar bersama Rasulullah, dia berjalan sejenak di hadapan Rasulullah dan sejenak di belakang Rasulullah, sehingga Rasulullah mengerti. Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Wahai Abu Bakar, Ada apa denganmu, kenapa engkau berjalan sejenak di hadapanku dan sejenak di belakangku?”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, ketika aku ingat orang-orang yang menghadang kita (Thhalab) , maka aku berjalan di depanmu. 
 
Dan ketika aku mengingat orang yang mengintai, aku berjalan dibelakangmu”. Lalu Rasulullah berkata: “Wahai Abu Bakar, Adakah yang engkau cintai selain Aku?”
Abu Bakar berkata: “Ya! Dialah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran”. Dan ketika kami tiba di Gua,Kemudian Abu Bakar berkata lagi: “tetaplah ditempatmu wahai Rasulullah, biar aku bersihkan dulu gua itu. Dan Abu Bakar masuk untuk membersihkan gua itu. Ada yang mengatakan bahwa Au Bakar tidak membersihkan hujrah . Lalu Abu Bakar berkata: “tetaplah di tempatmu wahai Rasulullah, hingga aku bersihkan dulu gua itu. Kemudian Abu Bakar masuk dan (ketika selesai membersihkannya) Abu Bakar berkata: “Masuklah wahai Rasulullah”. Dan Nabi pun masuk .
 
Setelah as-Shiddiq telah berada dalam Gua bersama Manusia terpilih, Nabi SAW, dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah Saw, ketika melihat kaki-kaki kaum musyrik (tepat berada di atas gua). Lalu Abu bakar RA berkata: “Wahai Rasulullah, jika saja salah seorang dari mereka melihat ke arah kakinya, maka dia akan melihat kita”. Lalu Rasulullah bersabda: “Apa pendapatmu wahai Abu Bakar, Di antara kita berdua, ada yang ketiga, Yaitu Allah” .
 
Semangat ksatria Abu Bakar yang sangat pemberani di malam itu tidak hanya terbatas dengan mengorbankan dirinya saja. Tetapi Beliau juga membawa hartanya dan menginfakkannya kepada Rasulullah SAW.
 
Asma’ RA berkata: “Ketika Rasulullah SAW keluar dan Abu Bakar ikut bersamanya, Abu Bakar membawa serta seluruh harta kekayaannya, yaitu sekitar lima hingga enam ribu Dirham. Dan Beliau membawanya bersama Rasulullah.
 
Asma’ berkata: “lalu Kakekku Abu Qahafah datang, dia telah buta. Kemudian dia berkata: “Demi Allah Sungguh dia pasti merisaukan kalian dengan kepergiannya denga membawa hartanya”.
 
Asma berkata: “aku berkata: “tidak, wahai kakekku! Sesungguhnya dia telah meninggalkan banyak kebaikan (harta) untuk kami”. Lalu dia berkata lagi: “maka aku mengambil batu, dan aku letakkan di dalam sebuah lobang di dinding rumah yang telah dibuat khusus oleh ayahku untuk meletakkan uang simpanannya. 
 
Kemudian aku tutupi lubang itu dengan bajunya. lalu aku menggamit tangan kakekku dan berkata: “letakkan tanganmu di atas harta ini wahai kakekku”.
 
Asma melanjutkan ceritanya: “lalu dia meletakkan tangannya di atas lobang itu. Dan dia berkata: “sekarang aku lega karena dia telah meninggalkan (harta) ini untuk kalian, itu lebih baik. Dan ini cukup untuk kalian. Asma kemudian berkata lagi: “Demi Allah, sebenarnya dia tidak meninggalkan apa-apa untuk kami. Aku hanya ingin menenangkan kakekku dengan meletakkan batu tadi” .
 
Demi Allah alangkah baiknya engkau wahai Abu Bakar!
 
Demikianlah kisah malam yang sangat mulia (yang telah dialami Abu Bakar-pent).
 
Adapun hari yang sangat mulia (yang telah dialami Abu Bakar pent) adalah hari Isra Mi’raj.
Ketika beberapa orang dari kalangan Kafir Quraisy datang kepada Abu Bakar RA, mereka menceritakan tentang kisah perjalanan Isra Nabi SAW ke Bait al Maqdis. Lalu Abu Bakar RA berkata: “Aku bersaksi bahwasanya Dia (Nabi Muhammad) bisa dipercaya”.
 
Lalu orang-orang Quraisy itu berkata: “jadi engkau percaya bahwa dia melakukan perjalanan menuju Syam dan kembali lagi ke Mekkah hanya dalam waktu satu malam?”. Abu Bakar menjawab: “Ya, sesungguhnya aku mempercayainya lebih dari itu. Aku mempercayai berita-berita yang datang dari langit siang maupun malam hari”. Karena itulah Abu Bakar dijuluki as Shiddiq yang berarti orang yang sangat mempercayai.
 
Seiring dengan berjalannya hari, dan berlalunya peristiwa-peristiwa, Abu Bakar bertambah sempurna imannya. Begitu pula semakin banyak dan bertambah pengorbannya di jalan Allah. Kontribusinya untuk islam dan untuk kaum muslim bertambah dan meluas sehingga Kaum Muslim menjulukinya dengan as Shiddiq.
 
Dia banyak sekali memiliki gelar: “ar-Rafîq (seorang sahabat karib), ar-Raqîq (seorang yang berhati lembut), as-Syafîq (seorang yang sangat penuh kasih sayang),(ar-Rahîq...., as-Sabbâq (seorang yang siap untuk menghadapi musuh), al-‘Atîq (seorang yang dilepaskan dari api neraka), al-watsîq (seorang yang komitmen atas keputusannya), al-‘Amîq (memiliki pemahaman yang sangat dalam), as-Shiddîq (seorang yang sangat mempercayai nabi), ad-Daqîq (seorang yang sangat teliti), as-syujâ’ (seorang ksatria pemberani). Setiap julukan ini memiliki latar belakang.
 
Beliau dijuluki As-Shiddiq karena kisah yang telah penulis ceritakan diatas.
Beliau dijuluki ar-rafiq karena beliau adalah Sahabat yang menemani Rasulullah SAW di dunia dan kelak di Akhirat.
 
Beliau dijuluki ar-Raqîq karena beliau mudah sekali meneteskan air mata dan banyak menangis.
Beliau dijuluki as-Syafîq karena telah banyak membebaskan budak-budak. Diantaranya tujuh budak yaitu: “Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Zanirah, al Hindiyyah dan anaknya perempuannya yang dahulu milik seorang perempuan dari Suku ‘Abduddâr, seorang budak perempuan dari Suku Muammil, Ummu ‘Abis. Mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua. Budak-budak ini sebagian besar pernah disiksa karena mereka masuk islam. Lalu Abu Bakar menyelamatkan mereka (dengan membelinya dari tuannya dan membebaskannya-pent).
 
Beliau juga dijuluki ar-Rahîq karena ketika beliau mendekati kaum Musyrik, beliau tidak gentar menyeru kepada jalan Allah azza wajalla. Di atas telah kami ceritakan bahwa di hari pertama beliau masuk islam, beliau telah menyeru kepada lima orang sahabatnya (untuk masuk islam-pent) .
Beliau juga dijuluki as-Sabbâq, karena beliau adalah sahabat Rasulullah SAW yang paling dulu maju untuk kebaikan. Kita bisa melihat kecenderungannya yang sangat jelas kepada kebaikan dari pengorbanan hartanya dan selalu paling awal dalam berbuat kebaikan.
 
Dari Umar RA dia berkata: “Rasulullah menyuruh kami untuk bersadaqah. Dan aku mendermakan hartaku. aku berkata: “Hari ini aku ingin menjadi orang yang pertama (mendermakan harta-pent). Maka karena aku ingin menjadi orang yang paling pertama mendermakan harta hari ini, aku membawa setengah hartaku”. Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”. Aku berkata: “setengahnya”.
 
Kemudian Umar berkata: “lalu datang Abu Bakar RA dengan membawa seluruh hartanya. Dan Rasulullah berkata: “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Dan aku (Umar) berkata: “Demi Allah, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mengungguli Abu Bakar” .
 
Tidak dapat diragukan lagi bahwa bahwa Abu bakar as- shiddiq adalah hamba yang paling dulu dan paling berhak mendapat kemuliaan dengan firman Allah: “ SURAT AL LAIL.
Abu Bakar RA adalah orang paling dahulu maju demi kebaikan, dan orang yang paling cepat bertindak untuk kebaikan.
 
Dalam sebuah halaqah (pengajaran) yang diajarkan oleh Nabi SAW, beliau bertanya: “Di antara kalian, siapa yang berpuasa hari ini?”. Para sahabat semua terdiam. Akan tetapi Abu Bakar berkata: “Aku”. Kemudian Nabi SAW bertanya lagi: “Di antara kalian, siapa yang hari ini berta’ziah?”. Para sahabat semuanya terdiam. Akan tetapi Abu bakar berkata: “aku”. Kemudian Nabi bertanya untuk yang ketiga kali: “Di antara kalian, siapa yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Tidak ada satupun sahabat yang menjawab. Dan Abu Bakar berkata: “aku”. Nabi masih melanjutkan pertanyaannya: “Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?”. Semuanya terdiam. Lalu as-Sabbâq Abu Bakar menjawab: “Aku”. Kemudian Rasulullah berkata: “Tidak ada balasan untuk semua itu, kecuali syurga” .
 
Ada beberapa sebab yang membuat Abu Bakar diberi julukan al-‘Atîq. Di antaranya karena paras dan rupanya yang sangat tampan. Dan ada yang mengatakan, karena beliau tidak memiliki cacat sedikitpun. Ada lagi yang mengatakan: karena Rasulullah SAW -ketika Abu Bakar menemuinya- mengatakan: “Engkau adalah orang yang terbebas dari api neraka” .
 
Dari as Sya’bî dia berkata: “Ali bin Abdillah bin Abbas bertanya kepada bapaknya kenapa Abu Bakar dijuluki al-‘Atîq?. Dan dia berkata: “Hal tersebut bukan seperti yang dikatakan banyak orang. Dia dijuluki al-‘Atiq karena bapaknya melahirkan banyak anak laki-laki, tetapi meninggal di waktu mereka kecil. Dan ketika Abu Bakar dilahirkan, Ibunya membawanya dan memasukkan Abu Bakar ke dalam Ka’bah. Setelah itu menghamburkan uang sebanyak empat puluh dinar di sekeliling ka’bah dan berkata: “Wahai Tuhan dari Para Tuhan, bebaskanlah anakku (jangan ambil anakku). Kemudian dari salah satu tiang Ka’bah muncul sebuah kepala yang menyerupai kepala kucing dan berkata: “Wahai ibu seorang hamba yang sangat penyayang…..Engkau beruntung telah mengandung seorang anak laki-laki yang dibebaskan dari api neraka…yang dikenal di muka bumi dengan julukan as-Shiddiq dan menjadi orang kepercayaan darimakhluk Allah yang terbaik, mereka tidak akan terpisah, saat mereka kecil dan mereka dewasa. Di masa mereka hidup hingga di hari akhir nanti…
 
Beliau juga dinamakan al-Watsîq karena beliau sangat dekat kepada Allah azza wajalla.
Adapun julukan al-‘Amîq diberikan karena Imannya yang sangat dalam. Dan hal tersebut disaksikan oleh Rasululah SAW dalam salah satu haditsnya: “ketika ada seorang penggembala diserang oleh seekor srigala yang memangsa alah satu dari kambingnya, srigala tersebut menoleh ke arahnya dan berkata: “adakah binatang buas lain hari ini? Hari ketika hanya aku yang menjadi pengembala. Dan ketika ada seorang laki-laki yang mengembala seekor sapi dan membebeni sapi itu dengan barang-barangnya. Dan sapi itu menoleh ke arahnya dan berkata: “Sesungguhnya aku diciptakan bukan untuk ini (membawa barang) akan tetapi aku diciptakan untuk menyuburkan ladang-ladang”. Kemudian para sahabat berkata: “maha suci Allah. Dan Nabi SAW berkata: “sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab RA mempercayai kisah itu (maksudnya, jika ada kisah seperti itu keluar dari nabi SAW, maka Abu Bakar pasti mempercayainya-pent)
 
Adapun julukan as-shidiq karena beliau adalah sahabat Rasululah SAW yang sangat dekat, sehingga Rasulullah berkata: “Andai saja aku boleh memilih seorang teman (kelak di hari kiamat), aku akan memilih Abu Bakar. Dia adalah saudaraku dan sahabat karibku” .
Adapun julukan ad-Daqîq diberikan karena beliau bisa memahami apa yang tidak bisa difahami oleh para sahabat yang lain. Beliau memiliki pemahaman yang sangat mendalam.
 
Abu Sa’id al Khudri RA berkata: “Rasulullah SAW duduk di atas mimbar kemudian berkata: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih antara bunga kehidupan dunia dengan keutamaan yang berasal dari-Nya. Maka dia memilih keutamaan yang berasal dari-Nya”. Lalu Abu Bakar menangis. Dan dia (al-khudri) berkata: “Kami bersumpah demi bapak dan ibu kami sesungguhnya Rasulullah SAW adalah hamba terpilih dan Abu Bakar adalah orang yang memberitakan kepada kami tentang itu” .
Beliau juga dijuluki al-Khalîq, karena beliaulah yang layak untuk memegang jabatan. Beliau orang pertama yang menjadi khalifah setelah Rasulullah SAW.
 
Dari Jabir bin Muth’im RA, dia berkata: “Seorang wanita datang kepada Nabi SAW, kemudian Nabi meminta dia untuk kembali. Dan wanita itu berkata: “Apa pendapatmu jika aku datang dan aku tidak bisa menemuimu?”. Dia sepertinya ingin mengatakan: (bagaimana jika aku datang dan Rasululah) telah meninggal dunia. Rasulullah SAW berkata: “jika engkau tidak bisa menemuiku, temuilah Abu Bakar” . 

Adapun julukan as-Syujâ’ diberikan karena beliau adalah seorang yang memiliki sikap ksatria.

Dari Ali bin Abi Thalib RA, suatu hari dia berkata ketika berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak: “Siapakah manusia yang paling pemberani?”. Mereka menjawab: “Engkau wahai Amirul mu’minin”. 
Kemudian Ali berkata: “Aku memang berani bertanding, akan tetapi selalu berakhir dengan seri. Manusia yang paling pemberani adalah Abu Bakar, karena Di hari Perang Badr, dialah yang membuat penghalang dari pepohonan Untuk Rasulullah SAW. Kemudian kami berkata: “lalu siapa yang menjaga Rasulullah SAW, agar tidak seorangpun kaum musyrik yang bisa mendekatinya? Dan ketika seorang dari kami mencoba mendekati Rasulullah, Abu bakar menghunuskan pedangnya tepat di atas kepala Rasulullah SAW.
 
Kemudian Jabir melanjutkan: “Orang-orang musyrik berkumpul untuk menghadap Abu Bakar di kota Makkah, ada yang menyerangnya dan mengguncang-guncang badannya. kemudian mereka berkata: “Engkau telah memilih satu Tuhan”. Dan sungguh tidak ada satu orangpun yang mendekati kepada kami kecuali abu Bakar yang langsung memukulnya, dan menyerangnya.
 
Dan kemudian dia berkata: “Celakalah kalian! Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan bahwa Tuhanku adalah Allah?”. kemudian Ali RA berkata: “Aku bersumpah demi Allah, apakah Abu Bakar leih baik dari seorang yang beriman dalam keluarga Fir`aun?”. Lalu jabir berkata: “Semua orang terdiam”. Kemudian Ali berkata: “mengapa kalian tidak menjawab?, demi Allah, sesungguhnya masa yang dialami Abu bakar lebih baik seluruh orang mu’min dari kalangan keluarga Fir`aun yang ada di Bumi. orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir`aun adalah orang yang menyembunyikan keimanannya, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang terang-terangan memperlihatkan keimanannya” .
 
Di hari perang Badar Nabi SAW ketika berada dalam benteng dia berkata: “Ya Allah aku bersumpah menjaga janjimu, Ya Allah Jika engkau mengkehendaki maka tidak akan ada seorangpun yang menyembahmu hari ini (berarti Allah mengkhendaki kekalahan dialami oleh kaum beriman. Nabi mengucapkan kata-kata ini untuk memohon pertolongan kepada Allah-pent)”. Abu Bakar menggenggam tangan nabi dan berkata: “Cukup wahai Rasulullah, Engkau telah memaksa Tuhanmu”. Kemulian rasulullah keluar dan menggulung lengan bajunya seraya berkata: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (QS. Al Qamar:45-46)
 
Sekarang mari kita lihat Apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar di hari Hudaibiyah. Beliau adalah seorang yang memiliki rasa optimisme yang sangat kuat. Rasa optimisme yang tidak bisa diragukan. Dan ketika seorang panglima perang yang sangat berani merasa gundah (merasa ragu dengan perjanjian itu), yaitu Umar al-farouq, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi SAW dan aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau benar-benar rasul utusan Allah?
 
Rasulullah menjawab: “ya” Umar bertanya: “Bukankah kita di jalan yang benar, dan mereka di jalan yang bathil?”. Rasulullah menjawab: “ya”. Kemudian Umar bertanya lagi: “Lalu mengapa kita harus melakukan kekurangan dalam agama kita? (maksudnya tidak melaksanakan Haji, karena bagian dari perjanjian Hudaibiyah adalah kaum muslim tidak diperbolehkan masuk kota mekkah untuk beberapa waktu-pent)”. Dan nabi berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak pernah berbuat maksiat terhadap-Nya, Dia adalah Penolongku”. Kemudian aku berkata lagi: “Bukankah engkau pernah berkata, bahwa kita akan menuju ka`bah dan melaksanakan thawaf. Rasulullah berkata: “Bukankah sudah aku beritahukan kepadamu bahwa kita pasti akan melaksanakan hal itu tahun ini?”
 
Aku berkata: “tidak”. Rasulullah berkata: “Engkau akan mendatangi ka’bah dan berthawaf di sana”. Kemudian Umar berkata: “Lalu aku mendatangi Abu Bakar”. Kemudian aku berkata: “Wahai Abu Bakar, bukankah Beliau adalah benar-benar utusan Allah?”. Abu Bakar menjawab: “ya”. Aku berkata: “Bukankah kita berada di jalan yang benar, dan musuh kita berada di jalan yang bathil?”. Abu Bakar menjawab: “ya”. Aku berkata lagi: “Lalu mengapa kita harus melakukan kekurangan dalam agama kita?” (haji). Abu Bakar berkata: “Wahai Manusia, sesungguhnya Dia (Muhammad) adalah utusan Allah, dan dia tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya. Dan Allah adalah penolongnya. Karena itu berpeganglah pada tali kendali-Nya (Gharaz) . Aku bersumpah sesungguhnya dia berada di jalan yang benar”

Aku berkata: “Bukankah dia (Muhammad) juga telah memberi-tahukan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Ka’bah dan berthawaf”. Abu bakar berkata: “Apakah dia memberitahukan bahwa engkau akan datang datang ke kota Mekkah dan berthawaf di Ka`bah tahun ini?”. Aku berkata: “tidak”. Abu bakar berkata lagi: “Engkau akan datang dan berthawaf di ka’bah tahun ini”. Umar berkata lagi: “Setelah itu barulah aku tahu. Dan karenanya aku mengerjakan banyak amal shalih.” 

Dan di hari Nabi Muhammad wafat, kaum Mu’min mengalami cobaan dan goncangan yang sangat besar. Saat itu Abu bakar datang mengendarai kudanya dengan tergesa-gesa. Kemudian beliau turun dari kudanya dan masuk ke dalam masjid. Dia tidak berbicara dengan seorangpun hingga masuk dan menemui Aisyah. Kemudian dia melihat Rasulullah SAW, dan beliau sudah dibaringkan dan ditutupi oleh kain. Kemudian Abu bakar membuka kain penutup wajahnya, dan memeluknya. Kemudian beliau menciumnya dan menangis. Setelah itu beliau berkata: “Aku bersumpah, sesungguhnya engkau memiliki dua kematian. Dan satu kematian yang telah Allah tentukan untukkmu telah tiba (dan kematian yang lainnya adalah kematian ajaran Nabi SAW). 

Kemudian Abu Bakar keluar. Dan Umar berbicara di hadapan manusia (Umar tidak percaya bahwa Nabi Muhammad telah emninggal dunia). Abu Bakar berkata: “Duduklah!” akan tetapi Umar menolak. Kamudian Abu Bakar mengucapkan syahadat. Dan orang-orang mendatanginya dan meninggalkan umar. Selanjutnya Abu Bakar berkata: “Demikianlah! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka ssungguhnya Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah selalu hidup dan tidak pernah mati. Allah berfirman: “.......” (QS.Ali Imran: 144)

Asma berkata: “Demi Allah sesungguhnya sebelumnya tidak ada seorang sahabatpun yang tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, hingga Abu Bakar membacakannya. Kemudian para sahabat menerima ayat tersebut dari Abu Bakar. Dan tidak ada seseorangpun dari mereka yang mendengar ayat itu kecuali setelah Abu Bakar membacanya.”

Penulis melihat bahwa Abu Bakar adalah manusia yang sangat kuat dan sosok yang memiliki sikap ksatria.
Di hari kedua (setelah kematian Nabi-pent), Abu bakar berkhutbah di depan manusia. Setelah memuji Allah beliau berkata: “wahai manusia, skarang aku yang akan memimpin kalian. Aku memang bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku. Akan tetapi jika aku melakukan keburukan, maka luruskanlah aku. 
 
Kejujuran adalah amanah. Sedangkan kebohongan adalah sebuah pengkhianatan. Orang-orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat disisiku dan aku akan menunaikan hak-hak mereka, dengan izin allah. Dan oarang-orang yang kuat di antar kalian adalah orang-orang yang lemah dalam pandanganku hingga aku bisa mengambil hak (orang lemah) darinya, dengan izin Allah. Dan suatu kaum yang tidak mau berjihad di jalan Allah akan diberi kehinaan oleh Allah. Dan keburukan yang terdapat dalam suatu kaum merupakan cobaan yang Allah berikan. 
 
Karena itu taatlah kepadaku seperti ketaatan kalian kepada Allah dan rasul-Nya. Jika kalian berbuat maksiat kepada Allah dan rasul-Nya maka aku tidak akan membantumu. Dan laksanakanlah shalat maka allah akan menyayangi kalian.” Dengan khutbah yang sangat memukau ini Abu bakar telah meletakkan pondasi bangunan bagi kepemimpinan yang dipegangnya”.
 
Masalah pertama yang di hadapi kepemimpinan Abu Bakar RA adalah ketika mengutus usamah RA.
Nabi pernah mengutus Usamah dalam perang melawan bangsa Roma. Dan pasukan yang dikomandoi Usamah telah dipersiapkan dua hari sebelum Nabi SAW meninggal. Ketika penyakit Nabi bertambah parah, Nabi sempat berdiri dan memberi perintah untuk menyiapkan pasukan. Setelah itu nabi SAW meninggal dunia. Dan situasi serta cobaan bertambah berat. Kemunafikan muncul kembali. Sebagian bangsa Arab yang tinggal di sekitar kota Madinah menjadi murtad. Sementara sebagian lain bersenang-senang dengan tidak mengeluarkan zakat.
 
Ketika musibah ini terjadi, beberapa orang meminta Abu bakar RA untuk membatalkan misi pasukan Usamah. Dan di antara orang yang mengusulkan itu adalah Umar RA. Akan tetapi Abu Bakar menolak usulan itu dengan sangat keras. Dan dia mengucapkan kalimat yang sangat tajam: “Demi Allah aku tidak akan membatalkan janjiku dengan Rasulullah SAW. walaupun burung mematuk kita, dan hewan pemangsa ada di dekat kota Madinah, dan meskipun anjing-anjing berjalan di atas kaki para Istri Nabi, maka aku akan tetap menyiapkan pasukan Usamah!.
 
Sebagian mengusulkan Agar beliau mengirim utusan pasukan yang lebih tua (berpengalman) dari Usamah. Akan tetapi Abu bakar tetap menolaknya, karena itu berarti merobah ketentuan yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
 
Kemudian as-Shiddiq keluar untuk melepas pasukan, menghantar Usamah dan memberi beberapa wasiat. Saat itu, Abu Bakar RA berjalan di atas kedua kakinya sedangkan Usamah mengendarai kuda. Lalu Usamah berkata kepadanya: “wahai Khalifah Raulullah, naiklah ke atas kuda ini, dan biarkan aku yang berjalan kaki”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi Allah aku tidak ingin mengendarai kuda dan engkau tidak harus turun, karena sesungguhnya aku ingin kakiku menjadi berdebu demi jihad di jalan Allah”.
Kemudian as-Shiddiq meminta izin kepada Usamah untuk mengikutsertakan Umar dalam pasukannya. Dan Usamah pun mengizinkannya.
 
Kepergian Usamah untuk menemui bangsa Roma di Negri Syam saat itu adalah sebuah kepentingan yang 
sangat mendesak. Ketika mereka (pasukan) berjalan dan melewati pemukiman bangsa Arab, mereka membuat bangsa Arab segan dan takut. Mereka berkata: “Pasti pasukan yang keluar ini memiliki persenjataan yang amat kuat. Kita akan melihat mereka bertemu dengan pasukan Roma”. Setelah bertemu, pasukan roma, mereka menyerang dan memeranginya. Peperangan ini terjadi selama empat puluh hari. Ada yang mengatakan bahwa peperangan ini berlangsung selama tujuh puluh hari. Setelah itu mereka kembali dengan membawa kemenangan.
 
Setelah mereka kembali, mereka diberi misi lain, yaitu memerangi orang-orang yang murtad dan tidak mengeluarkan Zakat.”

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, dan Abu Bakar menggantikannya sebagai khalifah. Akan tetapi banyak bangsa Arab yang kembali menjadi kafir. Kemudian Umar bin khattab berkata kepada Abu bakar: “Bagaimana engkau akan memerangi manusia, sedangkan Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan: lâ ilâha illa Allah. barang siapa yang mengucapkan lâ ilâha illa Allah, maka aku akan melindungi harta dan dirinya serta menunaikan haknya. Dan semua hisab atas dirinya adalah di tangan Allah (Umar bertanya tentang orang-orang muslim yang tidak mau mengeluarkan zakat-pent)”.
 
Kemudian Abu Bakar berkata: “Aku bersumpah aku akan tetap memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat (mengerjakan shalat tanpa mengeluarkan zakat atau sebaliknya-pent). Karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta. Demi Allah, meskipun aku harus menghadapi Tali kekang (‘Iqâl, yang dipakai sebagai cambuk-pent) , seperti yang dulu pernah mereka lakukan terhadap nabi SAW, aku akan tetap memerangi orang yang tidak mengeluarkan zakat. Kemudian Umar bin Khattab berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah azza wa jalla telah mengilhami Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Dan aku tahu bahwasanya dia benar” .
 
Setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan petunjuk, keimanan dan kebaikan, tibalah saat as-Shiddiq dijemput oleh kematian. Para sahabat mengunjunginya. Kemudian mereka berkata: “Apakah kami harus memanggil tabib untukmu?”.
 
Abu Bakar menjawab: “Aku telah melihatnya?”. Mereka bertanya lagi: “Apa yang dikatakannya kepadamu?”. Abu Bakar menjawab: “Sesunguhnya Aku berkuasa untuk melakukan apapun”. Selamat atasmu, engkau telah lebih dahulu di panggil ke surga, wahai Abu Bakar. Jika manusia akan memasuki surga melalui salah satu pintunya, maka engkau akan memasukinya dari seluruh penjuru pintu surga”.
 
Dalam salah satu ta’lim Nabi SAW tentang keimanan, beliau bersabda: “Barang siapa yang membantu sepasang suami istri di jalan Allah, maka kelak dia akan diseru di pintu surga dengan seruan: “Wahai hamba Allah, inilah kebaikan untukmu”. Jika dia adalah orang yang rajin mengerjakan shalat, maka dia akan di panggil melalui pintu shalat. Dan jika dia sering meakukan jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Jika dia sering memberi sadaqah, maka dia akan di panggil dari pintu shadaqah. Dan jika dia sering berpuasa, maka dia akan di panggil dari pintu orang-orang yang berpuasa”.
 
Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?”. Kemudian Rasulullah SAW berkata: “ya. Dan aku berharap engkau menjadi salah seorang dari mereka ”.
 
Demikianlah, kemudian Malaikat mengangkat Abu bakar ke syurga bersama para Nabi, orang-orang yang mempercayai, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Mereka adalah teman-teman yang tiada tara kebaikannya. Selamat atasmu wahai Abu Bakar, selamat datang wahai tamu surga, bidadari disekelilingmu. Ini adalah berita gembira untukmu wahai Abu Bakar, berita gembira tentang bidadari-bidadari syurga, dan berita gembira tentang surga yang sangat luas.

---

Sumber: /notes/materi-tarbiyah/30-sahabat-penghuni-syurga-1/145722218778261

Artikel Terkait


Sahabat Rasulullah Saw.: Abu Bakar As Shidiq Rodhiallahu 'Anhu
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email