08 Januari 2014

30 Sahabat Penghuni Syurga (5)

Bismillah ...
Inilah petikan artikel dengan judul, 30 Sahabat Penghuni Syurga (5) yang merupakan salah satu artikel yang terkumpul di Materi Tarbiyah nama akun di Facebook.

30 Sahabat Penghuni Syurga (5)


Berikut ini 30 Sahabat Penghuni Syurga (5) selengkapnya....

THALHAH BIN ‘UBAIDILLAH RAHIMAHULLAH

“Dan Thalhah akan berada di syurga” , kesaksian dari Nabi SAW

Thalhah bin Ubaidillah dididik langsung oleh Abu bakar as Shiddiq RA. Dia bersama Zubeir bin al ‘Awâm dan Utsman bin Affan, Sa’ad bin abi Waqqas dan Abdurrahman bin ‘Auf ridwânullah di tangan Abu bakar as Shiddiq. Ketika itu Thalhah adalah orang keempat setelah tiga orang yang masuk islam ditangan Abu Bakar.
Sebelum kita membahas jiwa kepahlawanan dari Thalhah bin ubaidilah ini, marilah kita simak kisah masuknya dia ke dalam agama islam. Thalhah RA berkata: “Ketika kami berada kami berada di alam pasar bashrâ ada seorang pendeta Nasrani berseru di antara manusia: “Wahai para pedagang! Tanyalah kepada kumpulan para pedagang, pembeli ini. apakah ada seseorang di antara mereka yang merupakan penduduk kota mekkah?”. Ketika itu aku berada di dekatnya. Dan aku menghampirinya. Lalu aku berkata: “ya aku adalah penduduk kota mekkah”.
Kemudian dia bertanya lagi: “Apakah di antara kalian ada yang bernama Ahmad?”. Aku berkata: “Ahmad yang mana yang engkau maksud?”. Ia berkata: “Anak dari Abdullah bin Abdul Mutthalib. Inilah tanda-tanda terkenal yang tampak padanya dan dialah Penutup nabi-nabi. Dia penduduk asli kota Mekkah, kemudian berhijrah menuju bumi yang sangat subur, bumi yang memiliki kebun-kebun anggur, dan danau-danau yang dipenuhi oleh air. Maka engkau harus mencarinya wahai anak muda!”. Kemudian Thalhah berkata: “Aku menyimpan kata-katanya di dalam hatiku”. Kemudian aku bergegas menuju onta dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Aku meninggalkan sekelompok orang yang datang bersamaku. Lalu aku melaju dengan penuh semangat menuju kota Mekkah. Ketika aku sampai, aku bertanya kepada keluargaku: “Apakah ada suatu peristiwa baru terjadi di Mekkah setelah kepergian kami?”.
Mereka berkata: “ya. Ada seseorang bernama Muhammad bin Abdullah mengaku sebagai seorang Nabi, dan anak Abi Qahafah –Abu Bakar- mengimaninya.
Thalhah berkata: “Aku mengenal Abu Bakar. Dia adalah seorang laki-laki yang pemurah, dicintai dan menjadi tempat berlindung bagi kaumnya yang membutuhkan. Dia adalah seorang pedagang yang memiliki akhlak dan kepribadian yang tegas. Kamipun sangat akrab dengannya. Kami senang duduk bersamanya dan membicarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suku Quraisy. Dia sangat menjaga wibawa keturunannya”. Lalu aku mendatanginya. Dan aku berkata kapadanya: “Benarkah kabar tentang pengakuan Muhammad bin Abdullah sebagai nabi, dan benarkah engkau telah mengikutinya?”. Dia menjawab: “ya”. Kemudian Abu Bakar menceritakan kembali peristiwa itu. aku langsung merasakan keinginan untuk bergabung bersamanya. Aku juga menceritakan apa yang telah disampaikan oleh seorang pendeta Nasrani tentang Muhammad. Abu Bakar sangat terkejut. Dan dia berkata: “Kalau begitu, mari kita datangi Muhammad dan kita sampaikan kepadanya apa yang baru saja engkau ceritakan, kemudian kita bisa mengetahui apa pendapatnya tentang hal itu dan agar engkau masuk ke dalam agama Allah”.
Thalhah berkata: “kemudian aku mendatangi Muhammad bersama Abu Bakar. Nabi SAW memperkenalkan aku kepada islam, dan membaca beberapa ayat al Qur`an kemudian memberiku kabar gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat”.
Setelah itu, Allah melapangkan jalanku untuk memeluk islam. Dan aku ceritakan kepadanya tentang kabar gembira yang disampaikan oleh seorang pendeta Nasrani. Lalu aku melihat kegembiraan yang tampak pada rona wajahnya. Kemudian, dihadapannya, aku mengucapkan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Aku adalah orang yang keempat dari tiga orang yang telah diislam kan oleh Abu Bakar.
Ketika keluarganya mengetahui bahwa thalhah telah menjadi muslim, mereka murka, dan kehilangan kendali atas diri mereka. Mereka menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.
Mas’ud bin Kharras berkata: “Ketika aku sedang melaksanakan Sa’i antara shafa dan marwah, ada sekelompok orang yang mengiringi seorang pemuda yang diikat tangannya pada lehernya. Mereka berjalan dengan sangat cepat di belakang pemuda itu. Mereka mendorongnya, dan memukul kepalanya (dengan cemeti). Dibelakangnya juga ada seorang wanita tua yang mencaci makinya dengan suara lantang. Kemudian aku bertanya: “Apa yang telah dilakukan pemuda itu?”. Mereka menjawab: “dia adalah Thalhah bin Ubaidillah. Dia telah keluar dari agamanya dan mengikuti agama Bani Hasyim (Muhammad).
Kemudian aku bertanya lagi: “lalu siapa wanita tua yang berada di belakangnya?”. Mereka menjawab: “Dia adalah ‘Ashabah binti al hadhrami. Ibu dari pemuda itu”.
Kemudian Naufal bin Khuwailid yang dijuluki dengan Singa suku Quraisy, menghampirinya dan mengikatnya dengan sebuah tambang. Di dekatnya, abu Bakar juga diikat. Mereka kemudian diikat menjadi satu. Dan diserahkan kepada para pemimpin Kota Mekkah yang sangat kejam, agar mereka mendapat siksaan yang berat.
Kerena peristiwa itu, Abu Bakar dan Thalhah beri julukan Qarînain, yang berarti dua orang teman.
Hari demi hari berlalu. Malam demi malam berganti. Akan tetapi ksatria perkasa itu semakin bertambah iman, cahaya, rasa takwa dan kegembiraannya. Posisi dan kedudukannya di mata Rasululah SAW semakin bertambah, sehingga beliau menambahkan julukan-julukan mulia untuknya seperti: “Thalhah Syhahîd al hayy (sang Pemuda Syahid yang hidup), Thalhah al Khair (yang penuh kebaikan), Thalhah al Jûd (yang murah hati). Dan Thalhah al Fayyâdh (yang sangat berlimpah kebaikannya). Setiap julukan itu memiliki latar belakang cerita yang menggugah dan menyentuh kalbu.
Julukan Syhîd al hayy diberikan ketika terjadi perang Uhud. Pada waktu itu kaum muslim tercerai berai dari Rasulullah SAW. Dan yang tersisa di sisi Rasulullah adalah sebelas orang dari kaum Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari kaum Muhajirin. Kemudian Nabi memanjat gunung bersama thalhah. Akan tetapi mereka dihadang oleh sekelompok orang dari kaum Musyrik yang ingin membunuh Nabi SAW. kemudian Nabi SAW berkata: “Barang siapa yang bisa menghalau musuh-mesuh ini dari kita, maka dia akan menjadi temanku di syurga”. Kemudian thalhah berkata: “Aku ya rasulullah!”. Akan tetapi Rasululah SAW berkata: “Tidak! Diamlah di tempatmu!”. Kemudian seorang laki-laki dari golongan Anshar berkata: “Aku ya rasulullah”. Dan Nabi menjawab: “Ya kamu!”. Kemudian pemuda Anshar itu maju untuk melawan musuh hingga dia terbunuh. Setelah itu Rasulullah SAW memanjat lagi untuk mencapai tempat yang lebih tinggi bersama orang-orang yang tersisa. Akan tetapi mereka dihadang lagi oleh seklompok kaum musyrik. Dan Nabi berkata: “Adakah seseorang dari kalian yang bisa melawan mereka?”. Thalhah menjawab: “aku ya Rasulullah!”. Rasulullah berkata: “tidak’ tetaplah ditempatmu!”. Kemudian seorang laki-laki dari golongan Anshar berkata: “Aku ya Rasulullah”. Dan Nabi menjawab: “Ya, Kamu!. Kemudian laki-laki Anshar itu maju untuk berperang sehingga dia terbunuh. Lalu rasulullah melanjutkan perjalannya. Dan sekelompok kaum musyrik kembali menghadangnya. Dan rasulullah kembali mengatakan hal yang sama. Dan Thalhah berkata: “Aku ya Rasulullah!. Nabi SAW tetap melarangnya, akan tetapi beliau mengizinkan seorang laki-laki dari kaum Anshar maju untuk berperang sehingga semua pengikutnya mati syahid. Dan yang tersisa di sampingnya hanyalah Thalhah.
Mereka kembali dihadang oleh kaum Musyrik. Dan Thalhah berkata: “Sekarang tiba giliranku”. Saat itu Rasulullah, mengalami patah tulang pahanya. Kening dan bibirnya juga terluka. Darah mengalir membasahi wajahnya. Dan beliau kehabisan tenaga. Sementara itu, Thalhah menyerang kaum Musyrik dan menghalau mereka agar tidak mendekati Rasulullah SAW. Setelah itu dia kembali ke tempat Nabi dan membawanya ketempat yang lebih tinggi. Kemudian dia membaringkan Nabi di tanah dan kembali menghadapi kaum Musyrik sehingga mereka tidak bisa mencapai tempat Nabi SAW.
Abu Bakar RA berkata: “ketika itu, Aku dan Abu Ubaidah bun al Jarrah berada jauh dari Rasulullah SAW. dan ketika kami bertemu dengannya, kami ingin menolongnya. Akan tetapi Nabi SAW berkata: “Tinggalkan aku, pergilah kepada sahabat kalian (yang dimaksud adalah Thalhah). Thalhah telah banyak kehilangan darah. Di tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh tusukan, dan tikaman pedang, panah, dan tongkat besi.
Tangannya telah terpotong. Dan dia terjatuh disebuah lobang dan tidak saarkan diri. Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Barang siapa yang ingin melihat seorang laki-laki yang (masih hidup dan) berjalan di muka bumi padahal dia seharusnya telah menemui ajalnya(karena luka yang dideritanya), maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah .
Abu Bakar As Shiddiq RA, ketika disebut perang Uhud, beliau berkata: “Hari itu, semuanya milik Thalhah”.
Kemudian beliau melanjutkan: “Aku adalah orang yang pertama kali pulang dari medan Uhud. Dan aku melihat seorang laki-laki yang berperang tanpa rasulullah SAW.
Kemudian Dia berkata lagi: “aku katakan: “mudah-mudahan itu Thalhah!. Saat itu aku telah tertinggal jauh dari Rasulullah. Kemudian aku berkata lagi: “dia pasti seorang laki-laki dari kaumku yang aku cintai. Ketika itu aku melihat ada seorang yang tidak aku kenal berperang melawan kaum musyrik. Dan ketika aku mendekati Rasulullah SAW, laki-kaki itu berjalan dengan sangat tergesa-gesa. Ternyata dia adalah Abu Ubaidillah bin al jarrah. Kemudian kami berhenti di sisi Rasulullah SAW. ketika itu, tulang pahanya patah. Dan wajahnya terluka. Di pelipisnya ada dua mata rantai tameng besi kepala musuh yang mengenainya.
Rasulullah kemudian berkata: “Bantulah sahabat kalian –yang dimaksud adalah Thalhah yang saat itu telah kehilangan banyak darah- akan tetapi kami tidak menghiraukan perkatannya.
Lalu Abu bakar berkata: “Aku menghampiri Rasulullah untuk mencabut pecahan perisai besi yang mengenai wajahnya. Lalu Abu Ubaidah berkata: “Aku bersumpah untuk kebenaran, tinggalkanlah aku (bersama Nabi). Lalu Abu bakar meninggalkannya. Akan tetapi Abu Ubaidah tidak ingin mencabut perisai itu dengan kedua tangannya, karena itu kan menyakiti rasulullah SAW. maka dia menggigitnya dengan bibirnya dan dia bisa mengeluarkan salah satu dari dua mata rantai itu. Dan salah satu gigi depannya rontok bersama dengan mata rantai itu. Kemudian aku kembali untuk melakukan seperti yang dilakukan ubaidah. Akan tetapi dia berkata: “Aku bersumpah, tinggalkanlah aku!”. Dan Abu Bakar melanjutkan ceritanya: “Kemudian Abu ubaidah mengerjakan seperti yang pertama dia kerjakan (mencopot mata rantai perisai dari pipi nabi-pent). Dan kali ini gigi depannya yang lainpun rontok bersamaan dengan tercabutnya rantai besi dari pelipis Rasulullah SAW. Dengan demikian, Abudullah bin Ubaidah adalah orang orang yang mengorbankan dua gigi depannya untuk Rasulullah SAW. “Setelah itu kami mengobati Rasulullah SAW”.
Kemudian Kami mendatangi Thalhah yang berada di sebidang tanah. Dan kami melihat pada tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh tikaman, tusukan pedang ataupun anak panah. Selain itu, jari-jari tangannya juga telah terpotong. Kamisegera mengobatinya .
Qais bin Hazim berkata: “Aku melihat tangan Thalhah telah cacat. Akan tetapi dia sanggup menjaga Nabi SAW di hari perang Uhud” . Kisah inilah yang mebuat Thalhah diberi julukan Syahîd al Hayy (seorang syahid yang tetap hidup).
Adapun Kisah yang melatar-belakangi julukan Thalhah al jûd (pemurah), dan Thalhah al fayyâdh (yang berlimpah kbaikannya) dan Thalhah al Khair (yang baik), sangat banyak. Salah satunya adalah ketika ada seorang laki-laki mendatangi Thalhah RA untuk meminta pemberian. Dan laki-laki itu menyebutkan bahwa dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Kemudian Thalhah berkata: “Engkau adalah kerabatku yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Dan aku mempunyai sebidang tanah seharga tiga ratus ribu (dirham) yang telah dihadiahkan oleh utsman bin Affan kepadaku. Jika engkau mau, maka ambilah. Atau jika engkau setuju, aku akan menjualnya untukmu seharga tiga ratus ribu dirham. Dan akan aku berikan uang itu untukmu”. Kemudian laki-laki itu berkata: “Aku menginginkan uangnya saja”. Lalu thalhah memberikannya.
Thalhah juga dikenal sebagai pedagangan yang memiliki barang perniagaan dan kekayan yang sangat luas. Suatu Hari barang perniagan untuknya tiba dari Hadramaut. Jumlahnya tujuh ratus Ribu dirham. Di malam harinya dia tidak bisa tidur karena takut dan gelisah. Kemudian Ummu Kultsum binti Abu Bakar, istrinya masuk ke dalam kamarnya dan berkata: “Apa yang terjadi denganmu wahai Aba Muhammad? Apakah Kami telah berbuat buruk kepadamu?’. Kemudian dia berkata: “Tidak, engkau adalah wanita ideal bagi seorang muslim. Aku berpikir sepanjang malam. Dan aku berkata: “Apa yang akan dipikirkan oleh Tuhan, jika seorang laki-laki tertidur sementara banyak harta menumpuk dalam rumahnya?”.
Lalu istrinya berkata: “Dan apa yang membuatmu gelisah?. Bukankah banyak sekali orang-orang yang membutuhkan dan sahabat-sahabat dari kaummu? Jika engkau terbangun esok hari, bagi-bagikanlah harta itu kepada mereka.
Kemudian Thalhah berkata: “Semoga Allah menyayangimu. Engkau adalah wanita cerdas anak seorang laki-laki yang cerdas”.
Keesokan harinya, Dia segera bangun dan meletakkan harta dan makanan dalam bungkusan kain dan mangkuk-mangkuk besar. Kemudian dia membagi-bagikannya kepada orang-orang faqir dari kalangan Muhajirin dan Anshar .
Dan di masa kepemimpinan Khalifah Ali RA, sang Syahid yang hidup ini akhirnya meninggal dunia untuk bertemu dengan para syuhada’ yang telah mendahuluinya di akhirat. Thalhah sang pemurah kembali kepangkuan Tuhannya sebagai orang yang sangat murah hati dan mulia.



Materi Tarbiyah

Semoga apa yang disampaikan bjsa menjadi wejangan bagi kita semua.

---
Sumber: /notes/materi-tarbiyah/30-sahabat-penghuni-syurga-5/146693935347756

Artikel Terkait


30 Sahabat Penghuni Syurga (5)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email