08 Januari 2014

30 Sahabat Penghuni Syurga (3)

Bismillah ...
Inilah petikan artikel dengan judul, 30 Sahabat Penghuni Syurga (3) yang merupakan salah satu artikel yang terkumpul di Materi Tarbiyah nama akun di Facebook.

30 Sahabat Penghuni Syurga (3)


Berikut ini 30 Sahabat Penghuni Syurga (3) selengkapnya....

DZUNNURAIN (PEMILIK DUA CAHAYA)
Utsman BIN ’AFFAN R.A

(( Barang siapa yang menggali sumur Rûmah, maka dia akan memperoleh syurga))
(( Beri tahukan dan berilah kabar gembira kepadanya (Utsman) dengan balasan syurga atas cobaan yang menimpanya))

Ada beberapa riwayat tentang kisah masuknya Utsman bin Affan ke dalam Islam.
Salah satunya adalah Ketika Utsman menerima kabar bahwasanya Muhammad bin Abdullah menikahkan anak perempuannya Ruqayyah kepada anak pamannya Ibnu Abi Lahab. Ketika itu Utsman sangat menyesal karena dia tidak meminangnya terlebih dahulu. Dia merasa tidak bisa menandingi akhlak Ruqayyah dan keagungan keturunan yang dimilikinya. Kemudian Utsman masuk menemui keluarganya dalam keadaan bermuram durja. Saat itu bibinya Sa’daâ binti Kuraiz melihatnya. Dia adalah wanita yang sangat tegas, cerdik, akan tetapi telah berusia lanjut. Sa’daa menghibur Utsman dengan sebuah kabar gembira atas hadirnya seorang Nabi yang menghancurkan berhala-berhala dan menyeru kepada zat yang Maha Esa dan ad-dayyân . Dia juga mengatakan bahwa dia ingin memeluk agama Nabi itu. Dia menambahkan bahwa jika Utsman mengikutinya, maka dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
Utsman berkata: “Aku pergi dan aku memikirkan apa yang dikatakan oleh bibiku. Kemudian aku bertemu Abu Bakar dan aku menceritakan apa yang dikatakan oleh bibiku. Kemudian dia berkata: “Sungguh, bibimu benar. Dia telah menyampaikan sebuah berita dan kabar gembira tentang kebaikan, wahai Utsman!. Sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki yang cerdas dan tegas. tanda-tanda kebenaran tampak pada dirimu dan engkau tidak sama dengan orang-orang yang bathil. Kemudian dia berkata kepadaku: “Berhala macam apa yang disembah oleh kaum kita?. Bukankah itu hanya sebongkah batu yang yang buta dan tidak melihat. Aku berkata: “Ya”. Kemudian Abu Bakar berkata lagi: “Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh bibimu telah terbukti. Sesungguhnya Allah telah mengirim utusan-Nya yang telah lama dinantikan. Dia diutus kepada seluruh manusia untuk menyampaikan agama yang memberi petunjuk dan kebenaran”.
Kemudian aku berkata: “Siapakah dia?”. Abu bakar menjawab: “Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul mutthalib”.
Kemudian aku berkata: “as shâdiq al Amîn?” .
Abu bakar menjawab: “Benar! Dialah sang Nabi!”.
Kemudian aku berkata: “Maukah engkau menemani aku untuk menemuinya?”. Dan Abu Bakar berkata: “ya”. Setelah itu kami pergi untuk menemui Rasulullah SAW. Dan ketika melihatku, beliau berkata: “Jawablah seruan orang yang menyeru kepada jalan Allah, wahai Utsman!. Sesungguhnya aku adalah utusan yang diturunkan secara khusus oleh Allah kepadamu dan kepada seluruh manusia umumnya”.
Kemudian Utsman melanjutkan ceritanya: “Sungguh! Mataku berkaca-kaca olehnya. Aku mendengarkan seluruh perkatannya, dan aku bisa merasakan ketentaraman dalam setiap kata-katanya, sehingga aku mempercayai risalahnya”. Setelah itu aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya”.
Setelah Utsman masuk islam, dia mendengar kabar bahwasanya ‘Atabah bin Abi Lahab menceraikan Ruqayyah anak perempuan Rasulullah SAW karena rasa dengki, iri dan benci kepada Rasululah SAW.
Ketika Utsman bin Affan RA mendengar kabar tentang perceraian Ruqayyah, dia hampir saja terbang karena kegembiraan yang dirasakannya. Setelah itu dia bergegas menemui rasulullah SAW dan meminang Ruqayyah untuknya. Kemudian Rasulullah SAW mengawinkan anaknya kepada Utsman. Dan Ummulmu’minin Khadijah binti Khuwailid mengadakan walimah untuknya.
Utsman bin Affan adalah sosok suku Quraisy yang memiliki profil yang sangat cerdas. Sinar mukanya menyerupai cahaya sinar pagi. Dan ketika Ruqayyah disandingkan kepadanya, orang-orang mengatakan: “Ini adalah pasangan yang paling serasi di antara manusia, Ruqayyah dan suaminya Utsman”.
Akan tetapi meskipun Utsman memiliki masa lalu d yang sangat baik dan keutamaan yang sangat berlimpah, dia tetap menerima ancaman dari kaumnya ketika dia masuk islam.
Pamannya al-Hakam sangat terpukul dengan berita keislamannya. Dan hal tersebut bagi al-hakam merupakan dosa besar yang harus dipikulnya di depan kaumnya.
Lalu pamannya menantangnya untuk berduel dengan membawa pengikut-pengikutnya. Maka terjadilah perempuran yang sengit. Tetapi Utsman dapat dikalahkan, dan ditawan. Dia diikat dengan rantai. Dan pamannya berkata: “Apakah engkau lebih mencintai agama nenek moyangmu atau engkau memilih untuk tetap memeluk agama yang baru?, sungguh aku tidak akan menghentikan siksaanku sehingga engkau meninggalkan keyakinan yang sekarang engkau ikuti”.
Utsman berkata: “Demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku (islam), dan aku tidak akan meninggalkan Nabiku selama aku hidup”.
Pamannya terus menerus menyiksa dan mengancamnya. Akan tetapi Utsman tetap berpegang teguh pada agamanya dan mempertahankan akidahnya sehingga pamannya menjadi putus asa untuk membujuknya. akhirnya dia melepaskannnya dan menghentikan siksaannya atas Utsman.
Ketika cobaan semakin berat menimpanya, dia bersembunyi demi menghindari fitnah terhadap agamanya. Dialah laki-laki pertama –setelah Nabi Luth AS- yang berhijrah di jalan Allah dengan membawa keluarganya. Dia juga orang pertama dari kalangan Muhajirin yang membawa keluarganya berhijrah ke negri Habsyah.
Setelah itu, Utsman RA kembali bersama keluarganya ke kota Mekkah. Akan tetapi tak lama kemudian dia kembali berhijrah ke kota Madinah.
Utsman juga ikut terlibat dalam beberapa peperangan dalam Islam. Hanya satu perang yang tidak diikutinya, yaitu perang Badar, karena beliau diperlukan untuk mendampingi Ruqayyah Alaihassalam yang sedang sakit.
Dan ketika Rasulullah SAW kembali dari perang Badar, beliau menemukan putrinya (Ruqayyah) telah dipanggil ke syurga oleh Allah. Nabi SAW merasakan kesedihan yang amat mendalam dengan kematian putrinya. Demikian pula Ustaman yang merasakan bela sungkawa yang sangat mendalam. Kemudian Nabi SAW mengawinkannya dengan putrinya yang lain Ummu kultsum. Karena itulah dia diberi julukan Dzunnurain (Yang memiliki dua cahaya). Dan dengan demikian, Utsman adalah orang pertama yang mengawini dua orang putri nabi SAW. Dia juga mempunyai kontribusi yang sangat besar bersama orang-orang yang ikut dalam perang Badr.
Utsman melanjutkan perjuangannya demi membela Islam. Dia tidak segan-segan mengorbankan jiwanya. Contohnya ketika tentara Romawi bersiap-siap untuk menyerang kaum muslim. Ketika itu cuaca sangat panas. Dan kaum muslim tidak memiliki persediaan senjata yang memadai. Harta yang ada juga tidak mencukupi, sehingga beberapa orang munafiq membelot dari Rasulullah SAW.
Ketika itu Sang Nabi pilihan Muhammad SAW naik ke atas mimbar dan menyeru kepada kaum muslim untuk berjuang dan memberikan infaq.
Kemudian Utsman berdiri dan berkata: “Aku memiliki 100 ekor onta lengkap dengan pelana dan sekedupnya wahai Rasulullah”. Maka wajah Rasulullah SAW berseri-seri dan beliau berkata: “Sungguh! dosa-dosamu yang akan engkau lakukan setelah hari ini akan diampuni, dosa-dosamu yang akan engkau lakukan setelah hari ini akan diampuni” . Tidak cukup sampai disitu. Abdurrahman bin Samurah meriwayatkan: Utsman bin Affan datang dengan membawa 1000 dinar dalam sebuah pundi ketika dia menyiapkan tentara ‘Usrah (tentara krisis). Uang itu langsung diberikan di pangkuan Nabi SAW. Aku (perawi) melihat Rasulullah menghitungnya di pangkuannya dan berkata: “dosa-dosa Utsman yang akan dilakukannya setelah hari ini akan diampuni”
Sejarah juga mencatat sebuah peristiwa besar, yaitu, ketika di kota Madinah, sebelum Nabi SAW datang, ada sebuah sumur yang di kenal dengan nama surum Raûmah. Sumur ini memiliki air yang paling sejuk di kota. Dan setiap orang yang ingin meminum airnya, harus membayar. Pemiliknya adalah seorang beragama Yahudi- tetapi ada yang mengatakan seorang muslim-. Ketika keadaan kaum muslim semakin memburuk, nabi SAW berkata: “Barang siapa yang menggali sumur Raûmah maka maka dia akan memperoleh syurga”.
Kemudian Umar bergegas menuju ke sumur itu untuk memperoleh syurga. Dia membeli sumur itu seharga tiga puluh lima ribu dirham. Tetapi ada yang mengatakan dua puluh ribu Dirham. Setelah itu sumur tersebut diperuntukkan bagi orang yang membutuhkan, fakir miskin dan Ibnu sabil .
Pada masa Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar RA, Kaum muslim mengalami musim kemarau yang membuat pohon-pohon menjadi kering. Masa itu dinamakan Tahun kelabu, karena paceklik yang sangat hebat. Dan ketika kesulitan semakin mendera kaum Muslim, penderitaan semakin menyiksa kaum muslim. Akhirnya mereka menghadap Khalifah Umar RA dan berkata: “Wahai Khlifah Rasulullah, sesungguhnya langit tidak lagi menurunkan air hujan, dan tanah tidak lagi menyuburkan tumbuhan. Dan hampir saja manusia mengalami kebinasaan. Maka apa yang bisa kami lakukan?”. Kemudian Umar RA memandangi mereka dengan wajah yang tertekan karena kesedihan. Kemudian dia berkata: “Sabarlah, tetaplah berusaha, dan janganlah kalian putus asa sehingga Allah memberikan jalan keluar dari kesulitan”.
Dan sore harinya, terdengar kabar bahwa kafilah yang membawa barang dagangan milik Utsman bin Affan telah kembali dari negri Syam. Dan kafilah itu akan tiba di kota esok subuh.
Maka, setelah para sahabat selesai menunaikan shalat subuh, mereka bergegas untuk menyambut Kafilah yang terdiri dari beberapa kelompok.
Kemudian para pedagang bersiap-siap untuk membeli barang-barangnya. Dan ternyata kafilah itu adalah sekelompok onta yang membawa gandum, buah zaitun dan kismis. Onta-onta ini berhenti tepat di depan pintu rumah Utsman bin Affan RA. Beberap pembantu segera menurunkan barang-barang tersebut dari atas onta.
Kemudian para pedagang masuk ke rumah Utsman dan berkata: “Juallah barang-barang yang engkau dapat hari ini wahai Abu ‘Amr!.
Kemudian Utsman RA berkata: “Dengan senang hati. Akan tetapi berapa harga yang menguntungkanku?”.
Mereka berkata: “Kami akan membayar dua dirham untuk barang-barang seharga satu dirham”.
Kemudian Utsman berkata lagi: “Aku bisa mendapatkan harga yang seperti itu dari orang lain, naikkanlah harganya”.
Dia berkata lagi: “Aku bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dari orang lain, naikkanlah harganya”. Dan dia berkata lagi: “Aku bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dari itu”.
Kemudian mereka berkata: “Wahai Abu ‘Amr, tidak ada pedagang lain di kota ini yang mendahului kami. Maka siapa gerangan pedagang yang memberimu harga yang lebih tinggi dari kami?”.
Utsman berkata: “Sesungguhnya Allah memberiku sepuluh kali lipat untuk setiap satu dirham, apakah kalian mampu menandinginya?”. Dan mereka menjawab: “tidak wahai Abu ‘Amr”.
Kemudian Utsman berkata: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah SWT, aku akan memberikan seluruh yang aku dapatkan dari kafilah ini sebagai sadaqah untukakaum muslim yang sangat membutuhkan. Aku tidak menginginkan dirham ataupun Dinar dari siapapun. Aku hanya mengharap pahala dan keridhaan Allah”.
Ketika tonggak kepemimpinan berpindah ke tangan dzunnurain RA, kaum muslim menikmati kesejahteraan dan kebaikan. Makanan dan harta berlimpah. Akan tetapi sebagian orang tidak mensyukuri nikmat Allah. Mereka membalas perbuatan baik Utsman dengan perbuatan buruk. Mereka menghujat keburukan-keburukan yang tidak dilakukan oleh Utsman (ketika itu terjadi penyelewengan-penyelewengan di tingkat gubernur, dan Utsman disalahkan atas penyelewengen tersebut-pent). Dia juga dicela atas perbuatan yang tidak akan dicela jika orang lain yang melakukannya. Keadaan bertambah kacau. Dan para musuh islam semakin menampakkan rasa dengki mereka. Mereka menyulut api fitnah dan menyebar syubhat serta keraguan atas rasa takwa, kesucian, kehidupan, yang tersembunyi maupun yang nampak dari khalifah Utsman RA. Dan akhirnya mereka mengepung Khalifah Utsman di rumahnya. Dia tidak diberi makan dan minum. Dia bahkan dilarang untuk melaksanakan shalat di masjid nabawi. Kemudian sekitar tujuh ratus orang sahabat Radhiallauanhum berkumpul untuk membela Khalifah Utsman bin Affan. Akan tetapi Beliau lebih rela mengorbankan darahnya ketimbang mengorbankan darah kaum muslim yang bermaksud membelanya.
Kemudian dia berkata: “Aku bersumpah demi zat yang memiliki hak atasku, hentikanlah permusuhan ini”. Dan dia berkata lagi kepada budak-budaknya (yang bermaksud membelanya): “Barang siapa yang menyarungkan pedangnya, maka dia aku bebaskan”.
Dan di saat-saat terakhir dari hidupnya, Khalifah Utsman tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau berkata: “Berbukalah malam ini bersama kami, wahai Utsman!”. Setelah itu Dia merasa yakin, bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dia akan berjumpa dengan Tuhan-Nya.
Keesokan harinya Khalifah Utsman RA menyiapkan dirinya dengan berpuasa, dan dia membebaskan dua puluh budaknya. Kemudian dia meminta celana panjang, dan mengenakannya karena khawatir auratnya akan terbuka, jika orang-orang yang bermaksud berbuat jahat kepadanya datang untuk membunuhnya.
Dan di hari ketika terjadi pembunuhan atasnya, dia keluar untuk menemui orang-orang yang telah menawannya, dan dia mengucapkan salam. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Kemudian dia berkata: “Aku sangat bersumpah demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa aku telah mebeli sumur Rûmah dari hartaku sendiri dan aku persembahkan semuanya untuk kaum muslim .
Kemudian mereka berkata: “ya”. Kemudian dia berkata lagi: “Lalu kenapa kalian melarangku untuk sekedar meminum airnya? Pertimbangkanlah, sesungguhnya aku telah membeli- tanah ini dan itu. Kemudian aku membangun masjid di atasnya?. Mereka berkata: “ya”. Kemudian dia berkata: “Apakah kalian mengetahui ada orang lain sebelum aku yang dilarang untuk melakukan Shalat disitu?. Aku bersumpah demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwasanya Rasulullah SAW berkata begini dan begitu?”. Akan tetapi orang-orang tersebut tetapi mengikuti hasrat dengki dalam hati mereka. Mereka tidak berfikir. Mereka tetap menyimpan dendam kepada Khlifah Utsman RA. Dan mereka membunuhnya ketika Khlifah Utsman membaca al Qur`an sehingga darahnya membasahi Ayat Allah SAWt : “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. Al Baqarah : 137). Semoga allah meridhai salah seorang sahabat karib Rasulullah SAW ini. Semoga Allah meridhai orang yang sangat disegani oleh para malaikat ini .



Materi Tarbiyah

Semoga apa yang disampaikan bjsa menjadi wejangan bagi kita semua.

---
Sumber: /notes/materi-tarbiyah/30-sahabat-penghuni-syurga-3/146195492064267

Artikel Terkait


30 Sahabat Penghuni Syurga (3)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email