09 Januari 2014

30 Sahabat Penghuni Syurga (2)

Bismillah ...
Inilah petikan artikel dengan judul, 30 Shabat Penghuni Syurga (2) yang merupakan salah satu artikel yang terkumpul di Materi Tarbiyah nama akun di Facebook.

30 Shabat Penghuni Syurga (2)

Berikut ini 30 Shabat Penghuni Syurga (2) selengkapnya....
AL-FÂRUQ, UMAR RAHDIALLAHU ‘ANHU

“Aku mendatangi sebuah istana berbentuk persegi panjang yang berkilauan terbuat dari emas. Maka aku bertanya: “istana milik siapakah ini?. Mereka berkata: “Istana ini milik seseorang dari suku Quraisy”. Kemudian aku berkata: “aku juga suku Quraisy, istana milik siapakah ini?. Lalu mereka berkata: “istana ini milik seorang laki-laki dari ummat Muhammad”. Kemudian aku berkata lagi: “aku adalah Muhammad, Istana milik siapakah ini?”. Mereka menjawab: “istana ini milik Umar bin Khattab”

Kalimat di atas diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, penghuni surga dan pemimpin utama Islam.

Ketika Nabi Muhammad SAW mendambakan Umar masuk islam, beliau berdo’a: “Ya Allah muliakanlah islam dengan salah satu dari dua orang laki-laki yang lebih engkau cintai, Umar bin Khattab atau Abu jahal bin Hisyam, dan Allah lebih mencintai Umar” .

Kemudian Umar masuk Islam, dia adalah orang yang keempat puluh masuk islam. Dia mendapatkan keberuntungan yang sangat besar di jalan Allah.
Ketika Nabi menyeru kepada kaum muslim untuk berhijrah, Umar berangkat untuk berhijrah secara terang-terangan.

Ibnu Abbas berkata: “Seluruh kaum muhajirin berhijrah secara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin khattab. Ketika dia bersiap pergi untuk berhijrah, dia menyandang pedangnya , dan memanggul panahnya . Dia menghunuskan busur panah di tangannya dan meruncingkan tongkat besinya (‘anazah). Dia berjalan melewati ka’bah yang halamannya dipenuhi suku Quraisy.

Kemudian dia melakukan Thawaf di ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan tenang, kemudian dia mendatangi kumpulan orang-orang Quraisy satu persatu dan berkata: “Wajah-wajah tertunduk, dan semua tertunduk di hadapan Allah kecuali orang-orang yang sombong (ma’athis). Barang siapa yang ingin mencelakai ibunya, atau menyengsarakan anaknya, atau menjadikan istrinya janda, maka temuilah aku di belakang lembah ini! (Umar menantang kaum Quraisy yang akan menghalanginya untuk berhijrah-pent).

Ali berkata, “tidak ada seorangpun yang berani mengikutinya kecuali sekelompok orang lemah. Kemudian Umar RA mengajarkan dan memberi mereka petunjuk. Setelah itu Umar pergi berhijrah.

Setelah kisah hijrahnya umar RA, penulis akan membahas tentang kekhalifahan Umar RA, agar kita bisa mengambil pelajaran dari kepribadian Umar sang pemimpin. Kita bisa mengambil pelajaran dari sikapnya yang adil. Kita bisa melihat keadilan, persamaan dalam masa kepemimpinannya yang dipenuhi kebenaran dan jauh dari segala bentuk kezhaliman, kesewenang-wenangan, nepotisme, sogok menyogok, perantara, pemalsuan atau kebohongan.

Dari Iyâs bin Salamah dari bapaknya dia berkata: “ketika aku berada di pasar, Umar RA datang untuk membeli keperluannya sambil membawa cemeti (di tangannya), kemudian dia berkata: “Menyingkirlah dari jalan wahai Salamah! Kemudian aku dipukul oleh tongkatnya.

Akan tetapi pukulan itu hanya mengenai ujung bajuku. Kemudian aku menyingkir dari jalan dan dia terdiam (berhenti memukul). Setelah satu tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya di pasar. Lalu dia berkata, “Wahai Salamah, apakah engkau ingin menunaikan haji tahun ini?”. Dan Aku berkata, “ya, wahai Amirul mu’minin”.

Kemudian dia menggenggam tanganku dan menggandengnya sehingga aku tiba di rumahnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kantung uang yang berisi 600 dirham dan berkata: “Wahai Salamah, pergunakanlah ini, dan ketahuilah, ini merupakan ganti rugi atas pukulan yang pernah aku lakukan padamu satu tahun yang lalu”. Aku berkata: “Demi Allah wahai Amirul mu’minin, aku sudah tidak mengingatnya lagi jika engkau tidak mengingatkanku”. Kemudian ia berkata: “Aku belum melupakannya” .

Dari Salim bin Abdullah dia berkata: “Umar RA melihat seorang laki-laki melakukan perbuatan dosa, dan dia memukulnya dengan tongkatnya. Kemudian laki-laki itu berkata: “Wahai Umar, jika engkau merasa telah berbuat baik, maka sesungguhnya engkau telah berbuat zhalim kepadaku (dengan memukulku). Dan jika engkau berbuat keburukan, maka sekarang aku mengetahuinya”.

Kemudian Umar RA berkata: “Engkau benar, maka mintalah Ampunan kepada Allah untukku, dan balaslah pukulan Umar!”. Akan tetapi laki-laki itu berkata: “Aku telah mengikhlaskannya untuk Allah dan untukmu (laki-laki tersebut tidak jadi memukul).

Sekarang, mari kita telah cerita yang telah ditulis dengan tinta emas berikut ini.
Umar Salamah bin Qayyis al Asyja’i di utus untuk menemui beberapa orang dari suku kurdi. Mereka semua masih dalam keadaan musyrik. Kemudian dia berangkat bersama pasukan yang telah disiapkan Umar RA dari kota madinah.

Ketika Salamah bertemu mereka (orang-orang dari suku Kurdi), dia menyeru kepada mereka untuk masuk islam, atau membayar pajak. Akan tetapi mereka menolak. Kemudian Salamah memerangi mereka. Dan Allah memberi pertolongan kepadanya untuk memerangi mereka.

Selanjutnya terjadilah peperangan. Anak-anak dari Suku Kurdi itu ditawan. Perhiasan-perhiasan, gelang serta emas permata disita dari mereka. Kemudian Salamah berkata kepada para sahabatnya: “Apakah kalian ridha, jika kita menyerahkan hal ini kepada Amirul mu’minin. Karena sesungguhnya ini bukan hak milik kalian. Dan Amirul mu’minin-lah yang bertanggung-jawab dan berhak membagi-bagikannya.

Kemudian para sahabat berkata, “Baiklah, Kami merelakannya”. Lalu permata-permata tersebut di letakkan dalam sebuah keranjang dan keranjang itu diserahkan kepada salah seorang sahabat. Kemudian Salamah berkata kepadanya: “Pergilah, jika engkau telah sampai ke kota Bashrah, belilah dua ekor onta, dan gunakanlah untuk kendaraan, sebagai bekal untukmu dan anakmu. Kemudian pergilah dan temui amirul mu’minin.

Kemudian dia (utusan tersebut) berkata: “Aku mengerjakan apa yang diperintahkan Salamah dan aku mendatangi Khalifah Umar, yang sedang membagi-bagikan makanan kepada beberapa fakir miskin sambil berdiri dan bertumpu di atas tongkatnya seperti seorang penggembala. dia berkeliling sambil membawa mangkuk, dan berkata: “wahai Yarfa’ , tambahkan daging, roti dan sayur untuk orang-orang ini. Kemudian aku duduk di tempat paling belakang. Dan aku mendapat roti yang sangat keras. sedangkan roti yang aku miliki masih lebih baik kwalitasnya. Setelah selesai membagi-bagikan makanan, Umar RA segera pergi. Aku mengikutinya.

Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya. aku meminta izin untuk masuk. Dan meskipun dia belum mengetahui siapa aku, dia mengizinkan aku masuk. Kemudian aku melihatnya di atas Suffah . Dan dia duduk di atas sebuah kain kasar . Bersandar pada dua buah bantal guling yang terbuat dari kulit(al-adm) yang berisi serat kasar dan di tutupi oleh sebuah sarung yang terbuat dari bulu kasar. Kemudian dia memberiku salah satu dari dua bantal itu. Dan aku duduk di atasnya. Kemudian dia berkata: “Wahai Ummi kultsum , adakah sesuatu yang bisa engkau suguhkan untuk kami?”. Kemudian istrinya mengeluarkan roti , yang disajikan bersama buah zaitun dan garam kasar.

Lalu Umar berkata: “Wahai Ummu kultsum, keluarlah dan makanlah bersama kami”. Dan Ummu Kultsum menjawab: “Aku mendengar suara seorang laki-laki bersamamu”. Dan dia menjawab: “ya, tetapi dia bukan penduduk negri ini”. Kemudian istrinya berkata lagi: “Jika engkau ingin aku keluar di hadapan teman-temanmu, maka engkau harus memberiku pakaian yang layak seperti Zubeir dan thalhah memberi pakaian yang layak untuk istrinya” .

Kemudian dia berkata lagi: “Tidakkah engkau cukup merasa bangga sebagai Ummu kultsum anak perempuan dari Ali bin Abu Thalib dan istri dari Amirul mu’minin Umar bin Khattab?. Perempuan tadi menjawab lagi: “Itu belum cukup membuatku bangga”.

Dan dia berkata kepadaku: “Makanlah! Kalau saja dia (istriku) mau, maka dia akan membuatkan makanan yang lebih bagus dari ini. Kemudian aku memakannya sedikit. Dan rasa makanan yang aku punya masih lebih baik dari makanan ini. Akan tetapi dia (Umar) memakannya. Sungguh, baru kali ini aku melihat orang yang makan dengan sanagt baik. Makanannya itu tidak mengotori tangannya maupun mulutnya.

 Kemudian dia berkata: “Berilah kami minum!” . Dan mereka datang dengan membawa gelas-gelas berisi gandum.

 Dan dia berkata: “Berikan kepada laki-laki itu!”. Dan aku meminumnya sedikit. Dan minuman yang aku miliki masih lebih baik dari itu. Akan tetapi Umar mengambilnya dan meminumnya hingga gelas tersebut menyentuh dahinya.

Kemudian dia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan, dan minum, menghilangkan haus dan dahaga, mengapa engkau hanya makan dan minum sedikit!”.

Aku berkata: “Wahai Amîrul mu’minin, sesungguhnya aku datang untuk suatu keperluan”.

Dan Khalifah Umar berkata: “Apa keperluanmu?”.

Aku berkata: “Aku adalah utusan yang dikirim oleh Salamah bin Qais”.

Dia berkata: “Selamat datang kepada Salamah dan utusannya –beliau mengucapkan itu hingga terlihat tulang iganya, dari saking gembiranya, setelah itu dia berkata: “Ceritakan kepadaku tentang keadaan orang-orang muhajirin, bagaimana kabar mereka?”.

Aku berkata: “Sebagaimana yang Engkau harapkan, wahai Amîrul mu’minin, mereka dalam keadaan selamat, dan memperoleh kemenangan besar dalam menghadapi musuh mereka.

Kemudian khalifah Umar berkata: “Bagaimana harga-harga di tengah-tengah mereka?”. Aku menjawab: “harga-harga relatif sangat murah”.

Beliau berkata lagi: “Seberapa banyak persediaan hewan yang mereka punya?. Hewan-hewan tersebut sangat penting sebagai bahan makanaan pokok untuk bangsa Arab. Dan itulah yang akan menentukan kehidupan bangsa Arab”.

Aku berkata: “Sapi yang mereka miliki berjumlah sekian, dan kambingnya berjumlah sekian”. Selanjutnya aku berkata: “kami telah melakukan perjalanan (seperti yang engkau perintahkan), wahai amîrul mu’minin, sehingga kami berjumpa dengan kaum musyrik musuh-musuh kita. Lalu kami menyeru mereka agar memeluk agama islam seperti yang engkau perintahkan. Akan tetapi mereka menolak. Lalu kami menyuruh mereka untuk membayar pajak, tetapi mereka juga menolak.

Akhirnya kami memerangi mereka, dan Allah menolong kami untuk mengalahkan mereka. Kemudian terjadilah peperangan. Dan kami menyandera anak-anak mereka sebagai tawanan. Kami juga mengumpulkan harta rampasan dari mereka. Pemimpin kami Salamah mendapat banyak sekali perhiasan emas. Kemudian dia berkata kepada para prajurit kita: “Apakah kalian setuju jika harta ini aku kirimkan kepada Amîrul mu’minin?”. Dan merekapun menyetujuinya”.

Setelah itu aku mengeluarkan keranjang yang aku bawa dan membukanya. Dan ketika Khalifah Umar melihat batu-batu mulia itu yang berwarna merah, hijau dan kuning yang berserakan, dia bertolak pinggang dan berteriak dengan suara yang sangat lantang: “Jika demikian, maka Allah akan membuat perut Umar kenyang”. Kalimat tersebut diucapkan berkali-kali.

Para wanita menyangka teriakan tersebut mengganggu mereka. Karena itu mereka bersembunyi di balik tirai. Lalu mereka mengintip dari balik tirai itu dan mencuri dengar ketika Khalifah Umar berkata: “Wahai Yarfa’, simpanlah (jangan engkau serakkan di depan umum) kembali apa yang engkau bawa. Setelah itu dia membagi-bagikannya. Kemudian dia berkata lagi: “keselamatan, keselamatan!”.

 Dan Aku berkata: “Wahai Amîrul mu’minin, berikanlah bagianku!”. Kemudian dia menjawab: “Wahai Yarfa’, aku berikan untukmu dua ekor unta sebagai sadaqah. Akan tetapi jika engkau bertemu dengan orang yang lebih membutuhkan darimu, maka berikanlah kedua unta itu untuk mereka.

Kemudian dia melanjutkan lagi: “Aku menyangka engkau tidak akan meminta bagian. Dan sungguh jika kaum muslim terpecah-pecah hanya karena harta rampasan ini, maka lebih baik jika harta ini aku bagikan untukmu dan untuk teman-temanmu yang membutuhkan” .

 Kemudian Yarfa’ berkata lagi: “Setelah itu aku kembali lagi dan mendatangi Salamah bin Qais, dan aku berkata: “Sungguh Allah telah memberi barakah dengan sesuatu yang aku bawa (bagian yang dia peroleh dari Umar). Bagi-bagikan harta ini kepada orang-orang yang membutuhkan sebelum engkau membaginya untukku dan untukmu. Kemudian dia membagi-bagikannya kepada manusia. Batu-batu permata itu dijual seharga lima hingga enam dirham. Penjualan ini sebelumnya mencapai 20000 dirham. Ketentuan ini berlaku tidak hanya bagi ummat muslim. Tetapi juga berlaku bagi ummat Yahudi dan Nasrani. Tidak ada perbedaan antara ummat Muslim, Yahudi, Nasrani hingga kaum musyrik. Semuanya memperoleh keadilan yang sama.

Dikisahkan bahwa anak dari ‘Amr bin Ash RA (yang ketika itu menjadi Gubernur Mesir) bertanding melawan seorang laki-laki suku Qibthi dari negri Mesir. Kemudian laki-laki tersebut mengalahkannya. Lalu Anak dari ‘Amr bin Ash itu mengangkat tangannya dan memukulnya seraya berkata: “Kenapa engkau berani memukul aku, padahal aku adalah anak dari Ibnu al-Akramain (Amr bin Ash). Kemudian laki-laki dari suku Qibthi ini menghadap kepada Amîrul mu’minin Umar bin Khattab RA dan menceritakan apa yang terjadi. Setelah itu khalifah Umar al-Farouk langsung mengirim Surat untuk memanggil Gubernur Mesir Amr bin Ash agar segera menghadapnya bersama anaknya.

Ketika Amr bin Ash bersama anaknya tiba, majlis pengadilan segera dimulai.
Khalifah Umar berkata kepada laki-laki dari suku Qibthi itu: “Ambillah tongkat ini, dan pukullah anak ‘Amr bin Ash”. Kemudian laki-laki dari suku Qibthi ini mengangkat tongkat dan memukulnya.

Setelah itu Khalifah Umar berkata lagi: “Pukullah juga gubernur ‘Amr bin Ash!”. Dan Pemuda Qibthi ini menjawab: “Aku hanya memukul orang yang memukulku”.

Khalifh Umar berkata lagi: “Pukullah juga ‘Amr bin Ash! Karena anaknya telah memukulmu dengan menggunakan kekuasaan yang miliki ayahnya”.

Setelah itu al-Farouq berpaling kepada ‘Amr bin Ash RA dan mengucapkan kalimat yang menjadi catatan sejarah: “Wahai ‘Amr, Jika engkau memperbudak manusia, maka sesungguhnya anak-anakmu telah dilahirkan sebagai pembawa petaka!”.

Jika ingin mengetahui kasih sayangnya, maka dengarlah cerita berikut ini!

Aslam berkata: “Suatu hari kami keluar bersama Khalifah Umar RA menuju kota Hurrah. Dan ketika kami sampai di Shirâr , Kami melihat api menyala. Kemudian Khalifah Umar berkata: “Wahai Aslam! Aku melihat ada beberapa pengendara yang kemalaman dan kedinginan, mari kita ke sana”. Kami turun dan bergegas mendekati mereka. Ternyata mereka adalah seorang perempuan bersama beberapa anaknya. Perempuan itu sedang meletakkan sebuah panci di atas api. Sementara anak-anaknya merintih kelaparan.

Kemudian Umar berkata: “Asslamau’alaikum wahai orang yang menyalakan cahaya –dia tidak ingin mengatakan “menyalakan api”. Wanita tersebut menjawab: “wa’alaikumussalam”. Dan dia berkata lagi: “Bolehkah aku mendekat?. Wanita tadi menjawab: “Jika engkau berniat baik, mendekatlah, dan setelah itu pergilah segera!”. Kemudian dia mendekatinya dan berkata:

“Apa yang terjadi pada kalian?”. Wanita itu berkata; “Kami Tidak punya tempat untuk bermalam dan kami kedinginan”. Khalifah Umar berkata lagi: “Lalu apa yang terjadi dengan anak-anakmu, mengapa mereka merintih?”. Dia menjawab: “Mereka lapar”. Khalifah Umar bertanya: “Apa yang ada dalam panci itu?”. wanita tadi menjawab: “Itu hanyalah air yang aku masak (seakan-akan dia memasak makanan) untuk menenangkan mereka hingga mereka tertidur”. Ketika itu Khalifah Umar langsung berkata: “Semoga Allah memberi kasih sayang kepada kalian. Apakah Khalifah Umar tidak mengetahuinya?”.

Wanita itu menjawab: “Umar memang pemimpin kami, akan tetapi dia tidak mengetahui keadaan orang-orang seperti kami”. Kemudian Umar berpaling ke arahku (Aslam) dan berkata: “Mari kita pergi!”. Kami keluar dan bergegas menuju gudang penyimpanan terigu . Khalifah Umar mengeluarkan satu keranjang terigu dan seukuran minyak samin (miyak khas yang selalu dipakai orang arab untuk menambah aroma-pent).

Lalu dia berkata (kepadaku): “Bawalah ini atas namaku!”. Aku berkata: “Kalau begitu, aku akan mendapat pahala dari makanan ini”. Dia berkata lagi: “Engkau kira engkau akan mendapat pahala dari perbuatan baikku di hari kiamat nanti? Sungguh engkau tidak akan menanggung beban pahala maupun dosa siapapun”. Setelah itu aku membawanya, dan kami pergi bergegas menuju wanita tadi. Kemudian dia memberikannya kepada wanita itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung terigu. Lalu dia berkata: “Ambillah minyak samin ini!” .

Kemudian Khalifah Umar meniup Api di bawah panci sehingga asap mengepul dari sela-sela jenggotnya yang lebat. Dia juga memasak terigu dan minyak samin itu untuk mereka. Setelah itu dia mengangkatnya dan meletakkanya di atas sebuah piring seraya berkata: “Berilah mereka (anak-anakmu) makan!”. Kemudian aku mendinginkan makanan itu. Khalifah Umar tidak beranjak dari tempat itu sehingga memastikan mereka kenyang. Lalu wanita itu berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.

Peristiwa itu mendapat perhatian yang sangat besar dari Amîrulmu’minin. Dan kejadian-kejadian seperti itu banyak sekali kita temui dalam sejarah hidup khalifah Umar. Kejadian-kejadian tersebut bukan hanya disebabkan oleh rasa loyalitas yang sangat besar yang dimiliki Umar. Dan juga bukan karena Umar memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar. Karena pada dasarnya rasa loyalitas itu lahir dari rasa kasih sayang. Dan bukan rasa kasih sayang yang melahirkan loyalitas .

Khalifah Umar melakukan itu, bukan karena dia mentaati perintah wahyu yang menyuruhnya untuk melakukan itu atau tidak. Karena jiwa yang bergerak untuk memenuhi perintah langit itu adalah jiwa yang memiliki potensi kebaikan dan kecenderungan untuk itu. Dia melakukan itu bukan karena takut akan azab yang akan dijatuhkan oleh penguasa langit (Allah). Dia melakukan itu karena dia bisa berempati atas keadaaan orang-orang yang terzhalimi. Dan sebaliknya, beliau juga tidak segan-segan memberikan hukuman bagi orang-orang yang enggan menunaikan kewajiban agamanya. Beliau tidak memberikan dispensasi menyangkut hal itu.

Misalnya, ketika dia melihat seorang laki-laki tua yang buta dan meminta-minta. Dan Setelah dia mengetahui bahwa laki-laki itu adalah seorang Yahudi, dia berkata: “Apa yang membuatmu datang kesini?”. Dia menjawab: “Aku ke sini untuk meminta upeti, karena kebutuhanku dan usiaku”. Kemudian Umar mengandeng tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Dia memberi apa yang dimintanya secukupnya. Setelah itu dia mengantarkannya ke bait mâl dan berkata: “Lihatlah laki-laki ini dan teman-teman senasibnya. Demi Tuhan, kita telah memenuhi haknya. Kita juga telah memberi makan anak-anak mereka. Akan tetapi dia telah renta.

Firman Allah “Sesungguhnya sadaqah itu untuk orang-orang fakir dan miskin”, dan yang dimaksud dengan orang-orang miskin disini adalah orang-orang miskin dari kaum muslim. Sedangkan laki-laki ini adalah orang miskin dari ahlul kitab”. Kemudian dia memberinya upeti dari pajak yang tarik dari orang-orang ahlul kitab. Disini empati dan rasa kasih sayang yang berperan. Dia tahu bagaimana mentaati ajaran agama. Dan tentu saja dalam kasus ini Agama tidak akan menunjukkan perbuatan yang tidak adil, karena agama islam sangat toleran dan penuh kasih sayang.

 Khalifah Umar juga membuat undang-undang yang memberikan santunan untuk setiap anak jalanan sebesar 100 dirham dari bait mâl. Ketentuan ini juga berlaku-bagi anak-anak dari pasangan suami istri yang sah. Ini adalah bentuk kasih sayang yang bertujuan untuk menghindari zina dan dampak buruk yang dihasilkannya dari orang-orang yang melanggar perintah agama dan tidak diterima oeleh masyarakat. Beliau menyayangi seluruh makhluk hidup bahkan beliau memanggil orang-orang yang berada dalam kesulitan tetapi tidak menceritakan keluhannya.

 Diriwayatkan dari al-Musayyab bin Darâm bahwasanya beliau melihat dia memukul seseorang dan setelah itu mengusirnya karena dia telah mengendarai ontanya yang lemah. Dia mengusapkan tangannya pada luka di tubuh onta itu untuk mengobatinya. Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya aku mengkhawatirkan tanggung-jawab yang akan dituntut dariku atas kejadian yang menimpamu (unta)”. Yang beliau maksud dengan perkataan ini adalah: “Jika saja ada anak seekor kambing yang mati di tepi sungai Efrat , maka aku takut Allah akan menghisab Umar”. Kalimat ini adalah ungkapan dari rasa tanggung-jawabnya yang sangat besar.

Dan semua itu –seperti yang telah kami jelaskan di atas- disebabkan karena rasa tanggung jawab seorang pemimpin bersumber dari sifat kasih sayangnya.

Sifat Zuhud Umar

Umar pernah memberikan Khutbah di depan Orang banyak -ketika beliau telah di angkat menjadi Khalifah- dengan menggunakan kain yang mempunyai dua belas lubang tambalan.
Kemudian Hafsah berkata kepada Umar: “Wahai Amârul mu’minin, aku memakai baju yang lebih lembut dari bajumu dan aku memakan makanan yang lebih baik dari makananmu. Allah telah meluaskan rizki dan melimpahkan kebaikan”.

Dan Umar menjawab: “Aku tidak sependapat denganmu. apakah engkau ingat bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar telah menjalani kehidupan yang sangat sederhana?”. Kalimat ini diucapkan berulang kali untuk mengingatkan Hafsah, sehingga membuat Hafsah menangis.

Kemudian dia berkata kepada Hafsah: “Sungguh, tidak ada kondisi yang lebih buruk selain yang dialami dua orang mulia itu. Dan aku tidak pernah melihat mereka hidup dalam kemewahan”.

Dari Anas RA dia berkata: “Aku pernah keluar untuk melaksanakan ibadah haji dari kota Madinah menuju kota Mekkah bersama Umar RA hingga kembali lagi. (Dan selama perjalanan), beliau tidak membawa seikat gandum ataupun kain atau permadani untuk sekedar alas yang diletakkan di bawah pohon untuk berteduh .

‘Utbah bin farqad berkata: “Aku memberikan Umar RA beberapa keranjang berisi manisan (yang terbuat dari kurma dan minyak samin). Manisan tersebut sangat indah warna dan bentuknya”.

Kemudian beliau berkata: “Apa ini?”.

Aku berkata: “Aku membawakan makanan untukmu”.

Dia berkata lagi: “Engkau membantu manusia semenjak pagi hari. Aku lebih senang jika engkau kembali dengan makanan ini dan memakannya agar engkau menjadi kuat”.

Kemudian ‘Utbah melanjutkan ceritanya: “Maka Umar membuka keranjang itu dan berkata: “Jika aku boleh memberimu saran wahai Utbah, maka kembalilah dan berilah makanan ini kepada kaum muslim”.

Kemudian ‘Utbah berkata: “Demi zat yang menunjukkan kebaikan kepadamu wahai Amîrul mu’minin, Jika aku infakkan seluruh harta Qais, maka tidak semua kaum muslim mendapat makanan seperti ini ”. Kemudian Khalifah Umar berkata: “Aku tidak membutuhkan itu”.

Kemudian dia meminta semangkuk besar roti gandum dan daging yang cukup tebal. Dengan sangat berselera, dia memakannya sehingga membuatku berselera untk makan. Kemudian aku mengambil mangkuk besar berwarna putih yang aku kira daging onta. Tapi ternyata itu adalah urat dan sepotong daging yang hanya bisa aku telan tanpa aku kunyah terlebih dahulu.

Ketika Umar tidak memperhatikan aku, aku meletakkan daging itu di antara mangkuk dan nampan (dibawah mangkuk, karena aku tidak ingin memakannya-pent). Setelah itu dia meminta segelas minuman yang rasanya seperti cuka.

Lalu dia berkata: “Minumlah!”. Aku mengambilnya. Aku hampir tidak bisa menelannya. Akan tetapi dia mengambilnya dan langsung meminumnya.

Kemudian dia berkata: “Dengarkan wahai ‘Atabah! Setiap hari kita menyembelih kambing yang banyak lemaknya dan sangat bagus dagingnya. Dan semua itu kita bagi-bagikan kepada kaum muslim. Sementara bagian lehernya kita berikan kepada keluarga Khalifah Umar RA. Daging kasar inilah yang di makan oleh keluarga Umar. Dan minuman yang seperti cuka inilah yang diminumnya agar kami memiliki tenaga untuk menjalankan tugas-tugas kami”.

Dan ketika ‘Utbah bin farqad sampai di negri Azerbaijan, dia diberi makanan. Dan ketika dia memakannya, dia merasakan aroma dan cita rasa yang sangat lezat dan manis. Kemudian dia berkata: “Sungguh, aku ingin membawakan makanan ini untuk Amîrulmu’minîn. Kemudian dia menyiapkan makanan itu sebanyak dua kantung besar dan meletakkannya di atas onta bersama dua orang yang diutus untuk mengantarkannya kepada Umar RA.

Setelah kedua bungkusan itu diberikan kepadanya, dia membukanya dan berkata: “Apa ini?”. Mereka berkata: “Ini adalah makanan”. Kemudian dia mencicipinya dan mengecap rasanya yang manis. Setelah itu dia berkata kepada kedua utusan: “Apakah setiap muslim yang sedang bertugas di sana memakan makanan yang seperti ini?” . utusan itu menjawab : “tidak”.

Kemudian dia berkata: “Jika demikian bawalah kembali kedua bungkusan ini”.

Kemudian dia menulis: “Demikianlah, sesungguhnya ini bukan dari usahamu dan bukan dari usaha Ibumu. Berilah makanan ini kepada kaum muslim yang ada dalam kafilahmu” .

Dan ceritakan bahwa beberapa potong bahan pakaian diberikan kepada Khalifah Umar RA. Lalu beliau membagi-bagikannya. Tiap orang bisa membuat satu baju dari bahan tersebut.

Dan ketika Khalifah Umar naik ke atas mimbar, dia memakai jubah yang terdiri dari dua potong bahan pakaian. Kemudian dia berkata: “Wahai manusia, dengarkanlah nasehatku”.
Kemudian Salman RA berkata: “Kami tidak akan mendengarkanmu”.

Lalu Umar berkata: “Apa yang membuatmu tidak ingin mendengarkanku wahai Abdullah?”.

Dan Salman menjawab: “Engkau membagikan setiap orang satu potong pakaian. Sedangkan engkau sendiri mendapat bahan pakaian yang terdiri dari dua potong”.

Kemudian Umar berkata : “Tenanglah wahai Abu Abdullah!”. Kemudian Dia memanggil Abdullah bin Umar. Dan tidak seorangpun menjawabnya.

Kemudian dia berkata: “ Wahai Abdullah bin Umar ! “

Dan Abdullah menjawab : “Ada apa wahai Amîrulmu’minin”.

Dia bertanya lagi : “Bukankah salah satu dari stelan baju yang aku jahit ini, berasal dari bahan pakaian milikmu? ”. dia menjawab: “Ya”.

Kemudian Salman berkata : “Sekarang kami mau mendengarkanmu”.

Yasâr bin Numair berkata: “Demi Allah, aku tidak menyaring terigu kecuali aku tidak berselera”.

Maksudnya adalah tidak berselera memakan roti itu. Ini menunjukkan bahwa roti yang dimakan oleh Umar RA adalah roti yang sangat kasar.

Sifat rendah hati

Dia mendengarkan dengan hati, jiwa, nurani dan kedua telinganya.
Anas RA berkata: “Suatu hari Aku keluar bersama Umar RA. Dan beliau masuk ke sebuah taman. Kemudian aku mendengarnya berkata: “Umar sang pemimpin kaum beriman, sadarlah!sadarlah! demi Allah wahai Ibnu al-khattab, jika Engkau tidak bertakwa kepada Allah pasti Allah akan mendatangkan azab kepadamu” .

Dan ketika Umar sampai di negri Syam untuk menaklukkan negri Palestina –Semoga Allah membalas jasanya- dia terhambat oleh sebuah danau. Kemudian dia turun dari ontanya dan melepaskan kedua Khuf-nya (sepatu yang bisa masuk air). Setelah itu, dia mengenggam barang-barang tersebut dengan kedua tangannya dan menyebrangi danau itu bersama ontanya.

Kemudian Abu ‘Ubaidah RA berkata kepadanya: “AKu telah berbuat banyak bagi rakyat di bumu ini, aku berbuat ini dan itu” (dia bermaksud mendapat jabatan dengan menyebut jasa-jasany-pent).

Setelah itu Abu ubaidah berkata: “dia (Umar) telah mendorongnya dengan lembut”.

Dan dia berkata: “Oh! Kenapa bukan orang lain yang berkata seperti itu wahai Abu’Ubaidah! Sesungguhnya kalian adalah manusia yang hina dan manusia yang paling berbahaya, dan manusia yang paling sedikit jumlahnya. Kemudian Allah memuliakan kalian dengan Islam. Karena itu jika kalian meminta kemuliaan (jabatan) kepada zat selain Allah, Maka Allah akan membuat kalian menjadi terhina” (Kemuliaan di mata Allah bukan karena pangkat yang dimilikinya-pent).

Dan ketika Umar menerima berita tentang turunnya Rustam al Qadisiyyah dari pucuk kepemimpinannya, dia mendapatkan berita itu dari kafilah yang datang dari Qadisiyyah. Dia menunggungya dari pagi hingga siang hari. Setelah itu dia kembali kepada keluarganya. Dan ketika dia bertemu dengan orang yang memberi kabar gembira, dia menanyakan dari mana berita itu datang.

Kemudian orang tersebut memberinya kabar. Setelah itu dia berkata: “Wahai Abdullah!, ceritakan kepadaku!. Dan pembawa berita itu menjawab: “Allah telah menghancurkan musuh-musuh”. Umar tidak mengatakan identitas dirinya ketika dia meminta informasi tentang al-Qadisiyyah. Setelah itu Umar RA bergegas mengendarai unta bersama pembawa berita itu. Pembawa berita itu tidak mengetahui identitas dirinya sehingga sampai di kota. Yaitu ketika manusia memberinya salam dengan menyebutnya Amirul mu’minin.

Kemudian laki-laki pembawa berita itu berkata: “Mangapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau adalah Amârulmu’minin?”.

Kemudian Umar RA berkata: “hal tersebut tidak usah dipersoalkan wahai saudaraku”.

Sikapnya dalam menegakkan hukum

Keadilan adalah dasar yang melandasi keputusan hukumnya. dan prinsip pokoknya adalah membela yang benar. Sementara atapnya adalah kesetaraan.

Dari Asbagh bin Nabâtah dia berkata: “Aku dan ayahku keluar dari Zarwad (Nama tempat) hingga sampai dipinggir kota ketika hari masih gelap. Sementara Kaum muslim mengerjakan shalat. Setelah mereka selesai menunaikan shalatnya, mereka pergi dan keluar menuju pasar.

Ketika itu kami bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa cemeti kayu. Lalu laki-laki itu berkata: “Wahai orang badui, apakah engkau menjual kambing?”. Laki-laki itu melakukan tawar menawar kepada bapakku hingga mencapai harga sepakat. Ternyata laki-laki itu adalah Umar bin Khattab RA.

Kemudian dia mengelilingi pasar dan menyeru kepada manusia agar bertaqwa kepada Allah. Dia berjalan kesana dan kemari. Dan ketika dia lewat di depan ayahku, dia berkata: “Engkau telah menggangguku, bukankah engkau ingin membeli kambing dariku?” . setelah itu dia lewat lagi untuk yang kedua kalinya. Dan dia kembali mengatakan hal itu.

Dan kali ini Umar menjawab: “Aku akan memberikan hakmu”

Kemudian Umar lewat lagi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini Ayahku melompat dan sangat marah. Lalu dia menarik baju Umar dan mengatakan kepadanya : “Engkau telah membohongiku, engkau telah berbuat zhalim kepadaku”. dan dia mengguncang-guncang tubuh Umar. Kemudian orang-orang berkerumun dan berkata : “Wahai Musuh Allah, engkau telah mengguncang-guncang tubuh amîrulmu’minini”.

Lalu Umar RA balas menarik baju bapakku. Dan kali ini Bapakku tidak berdaya, padahal sebelumnya dia sangat garang. Akhirnya Umar membawanya kepada seorang tukang aging. dan Umar berkata: “Aku bersumpah kepadamu, tunaikanlah hak orang ini (berilah uang kepada orang ini (ayah Asbagh), karena tadi dia telah terlanjur tawar menawar). Dan ambilah keuntungan yang aku peroleh” (sisa harga atas penjualan kambing Umar-pent). Saat itu akhirnya Umar yang menjual kambing (untuk membayar Bapak Asbagh).

Kemudian ayah Asbagh berkata: “Tidak Wahai amîrulmu’minin,!”. Bayarlah yang menjadi hak atasku. Maka aku akan mengembalikan keuntunganmu (laki-laki itu memberi sesuatu sebagai keuntungan dari penjualan kambing Umar-pent, karena keuntungan penjualan kambing diberikan kepada tukang daging tadi-pent)”. Kemudian membayar harga kambing kepada laki-laki itu.

Kemudian Umar berkata: “Apakah itu mencukupimu?”. Dia menjawab: “ya”.
Setelah itu Umar RA berkata: “Engkau masih memiliki hutang kepada kami. Aku telah mengguncang-guncang tubuhmu, karena engkau telah melakukan hal itu kepadaku. Aku menyerahkan perkara itu kepada Allah azza wajalla, dan kepadamu” (aku mengikhlaskannya).

Setelah itu Ashbag berkata: “Aku seperti melihat Umar mengambil sekerat daging sebagai keuntungan. Dan menggantungkannya pada tangan kirinya. Dan disebelah kanannya dia membawa cemeti dan melanjutkan berkeliling di pasar hingga dia masuk kedalam kendaraannya.

Jika dia bertanya sifat wara’(hati-hati)

Dari Abudullah bin Umar RA dia berkata: “Aku membeli seekor onta dan aku menitipkannya ke sebuah tempat penggembalaan. Ketika onta tersebut telah gemuk badannya, dia (Abdullah bin umar) berkata: “Umar RA masuk ke dalam pasar dan melihat seekor onta yang sangat gemuk.

Kemudian dia berkata: “Milik siapakah Onta yang sangat gemuk ini?. Kemudian dijawab bahwa onta itu milik Abdullah bin Umar. Setelah itu dia berkata: “Wahai Abdullah bin Umar Sungguh hebat engkau sebagai anak seorang pemimpin!. Kemudian dia (Abdullah bin Umar) berkata lagi: Aku berusaha berkata: “Ada apa wahai Amîrulmu’minin?. Dia menjawab: “Onta apa ini?”. Aku menjamab : “Ini adalah onmta yuang aku beli”. Dan aku menitipkannya kepada seorang penggembala, aku mengharapkan keuntungan seperti yang diinginkan manusia lainnya.

Kemudian dia berkata: “dikatakan: “gembalakanlah onta Anak Amîrul mu’minin”.

Wahai Abudllah bin Umar, ambillah modal usahamu. Dan berikanlah sisanya kepada pengelola zakat orang-orang muslim”.

Saat-saat terakhir kehidupan Khalifah kedua Umar bin Khattab RA.

Abu Lu’lu’ah yang beragama majusi –Semoga Allah melaknatnya- telah menikamnya dengan pedang sebanyak tiga tikaman di saat beliau sedang melaksanakan shalat subuh.

Dan ketika orang-orang merasa bahwa kematian telah mendekatinya, mereka berkata: “Wahai Amîrulmu’minin siapa yang akan engkau tunjuk sebagai penggantimu?”. Umar menjawab: “Jika aku meninggalkan kalian (tanpa memberi washiat), maka hal tersebut pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Nabi Muhammad SAW tidak memberi wasiat tentang pengganti beliau sebagai Khalifah-pent)).

Dan jika aku menunjuk seseorang sebagai penggantiku, maka hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang yang lebih baik dariku (Abu bakar mewasiatkan kekhalifahan langsung kepada Umar-pent). Jika saja Abu ‘Ubaidah bin Harrâj masih hidup, maka aku akan menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Tuhanku bertanya kepadaku (kenapa aku memilihnya), maka tentu aku akan mengatakan: “aku mendengar Nabi-Mu berkata: “Abdullah bin Harraj adalah yang bisa menjaga ummat ini”. Atau jika saja Sâlim pembantu Abu Khuzaifah masih hidup, Aku akan memintanya sebagai penggantiku. Dan jika Tuhanku bertanya lagi kepadaku (mengapa aku memilihnya), Aku akan menjawabnya: “Aku mendengar nabi-Mu berkata: “Sesungguhnya Sâlim sangat mencintai Allah. Dan dia tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah”.

Kemudian dikatakan kepadanya: “Bagaimana jIka engkau mengangkat Abdullah bin Umar? Sesungguhnya dia pantas mendapatkannya. Dia memiliki pengetahuan yang sangat bagus tentang agamanya. Dia juga memiliki keutamaan dan telah masuk islam sejak lama. Khalifah Umar berkata: “Cukup satu orang saja dari keluarga al-Khattab yang akan dimintai pertanggung-jawaban dari Ummat Muhammad nanti (maksudnya adalah dirinya (Umar)). Aku ingin keluar dari tanggung jawab ini secara semestinya. Aku hanya akan mengambil secukupnya. tidak berlebihan ataupun menjadi beban untukku”.

Setelah itu mereka pergi dan mereka berkata lagi: “Wahai Amîrulmu’minin apakah engkau akan mambai’at seseorang?”. Kemudian dia berkata: “Aku telah mengumpulkan wasiatku untuk kalian bahwa seseorang laki-laki akan memerintahkan kalian –dan aku berharap dia akan memerintah dengan benar- kemudian dia menunjuk Ali. Akan tetapi aku sebenarnya tidak ingin menanggungnya (penunjukan Ali) dalam keadaan hidup maupun mati. Karena itu pergilah kepada orang-orang yang telah dirihdai Rasululah ketika beliau wafat: Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan, Zubeir bin al ‘Awân dan Thalhah” (mereka adalah anggota parlemen dimasa Kepemimpinan Umar-pent).

Kemudian dia berkata kepada Abdurrahman: “Panggilkan untukku Ali, Utsman, Zubeir, Sa’’ad dan tunggulah pula saudaramu Thalhah”. Dia mengulangi perintah ini hinga tiga kali. Thalhah sebelumnya memang tidak hadir. “jika dia tiba, lakukanlah musyawarah! Allah akan memberimu petunjuk. Aku menghimbau kepadamu wahai Ali, jika engkau dipercaya untuk memimpin, maka mintalah bantuan Suku Bani Hasyim untuk memimpin di antara manusia dengan baik. Aku menghimbau kepadamu wahai Utsman, jika engkau dipercaya untuk memimpin maka libatkanlah suku Bani Abi Mu’îth untuk membantumu memimpin manusia dengan baik. Aku menghimbaumu wahai Sa’ad jika engkau memimpin suatu kaum, maka mintalah bantuan sanak keluargamu untuk memimpin di antara manusia dengan baik” .
Sekarang adakanlah musyawarah di antara kalian. Setelah itu, ambillah keputusan terbaik. Dan biarkan Shuhaib menjadi Imam”. Kemudian dia memanggil Abu Thalhah al Anshâri dan dan berkata: “Berjaga-jagalah di depan pintu rumah mereka. Dan jangan biarkan satu orangpun masuk ke dalam rumah mereka. Dan wasiatkan kepada khalifah sesudahku untuk menjaga kaum Anshar yang telah menolong untuk mendapatkan tempat tinggal dan menjaga keimanan. Balaslah kebaikan mereka dengan kebaikan lain, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka.

Suatu hari Umar bin Khattab RA keluar dan berkeliling di pasar. Setelah itu dia bertemu dengan Abu lu’luah yang beragama Nasrani dan tawanan dari al Mughirah bin Syu’bah. Kemudian Abu lu’lu’ah berkata: “Wahai ‘Amîrulmu’minin maukah engkau membantuku bicara kepada al Mughirah bin Syu’bah (untuk meringankan pajaknya)? Sesungguhnya aku telah membayar pajak yang cukup besar.

Kemudian Umar RA berkata: “Berapa pajak yang engkau bayarkan?”. Dia menjawab: “dua dirham setiap hari”. Kemudian Umar bertanya lagi? “Apa pekerjaanmu?”. Dia menjawab: “aku adalah seorang tukang kayu, pemahat dan pandai besi”.

Lalu Umar berkata lagi: “Aku tidak melihat bahwa pajak yang engkau bayar sesuai dengan pekerjaanmu. aku malah mendengar bahwa engkau berkata: “Jika aku memintamu untuk membuat kincir angin untuk menggiling, maka engkau akan mengerjakannya”. Dia berkata: “Ya”.

Kemudian Umar berkata: “Kalau begitu buatkanlah aku sebuah kincir angin”. Dan dia menjawab: “Jika engkau menerima, maka aku akan buatkan untukmu sebuah kincir angin penggiling yang akan dibicarakan orang dari timur hingga barat”. Kemudian dia berlalu.
Umar berkata : “Aku telah di ancam dengan tawanan tadi”.

Setelah itu Umar kembali ke rumahnya. Dan keesokan harinya Ka’ab al-Ahbar berkata kepadanya: “Wahai Amîrulmu’minin, berjaga-jagalah, kerena sesungguhnya engkau akan mati tiga hari lagi”.

Umar bertanya : “Apa yang engkau ketahui?”.

Dia menjawab: “Aku membacanya dari kitab Allah Azza wajalla, Taurat”.

Kemudian Umar berkata : “Demi Allah, engkau tidak akan menemukan Nama Umar bin Khattab ada dalam kitab Taurat”.

Kemudian dia menjawab: “Tentu saja tidak. Akan tetapi aku menemukan sifatmu, dan tipu daya yang akan berlaku untukmu. Dan sesungguhnya ajalmu telah dekat”. Umar tidak merasakan suatu penyakit apapun.

Keesokan harinya Ka’ab datang lagi dan berkata : “Wahai Amîrulmu’minin, satu hari telah berlalu, dan engkau masih punya waktu dua hari lagi”. Dan keesokan harinya dia datang lagi dan berkata : “Dua hari telah telah berlalu dan engkau masih punya sisa waktu satu hari hingga bosok pagi”.

Ketika subuh datang, Umar keluar untuk melaksanakan shalat. dia mempercayakan pengaturan shaf orang-orang yang shalat. setelah barisan tersebut lurus, dia berdiri dan bertakbir.

Ketika itu Abu lu’lu’ah masuk. Di tangannya dia menggenggam sebuah pisau belati yang memiliki dua mata pedang. Di tengah-tengahnya ada pegangan. Kemudian dia menikam Umar sebanyak enam kali salah satunya tepat di bawah perutnya. Dan tikaman itulah yang membunuhnya.

Ketika Umar merasakan pedih akibat tikaman itu, dia terjatuh dan berkata: “Apakah Adurrahman bin ‘Auf ada di antara kalian?”. Mereka menjawab: “Ya Wahai Amîrulmu’minin, inilah dia”. Lalu dia berkata: “majulah dan teruskanlah shalat berjamaah”. Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf melanjutkan shalat.

Setelah itu Umar terkapar. Dia segara diangkat dan dimasukan ke rumahnya. Kemudian dia berkata: “Aku wasiatkan kepada khalifah sesudahku agar dipilih dari bangsa Arab. Karena mereka adalah sendi pokok Islam. Aku wasiatkan kepada Khlifah penggantiku untuk memegang teguh Ajaran Muhammad SAW. Mintalah mereka untuk menunaikan janji mereka. Apakah itu sudah cukup? aku meninggalkan Khalifah sesudahku dengan istrahat yang suci. Wahai Abdullah bin Umar. Pergi dan lihatlah siapa yang telah membunuhku?”.

 Kemudian dia berkata: “wahai Amîrulmu’minin, sesungguhnya yang membunuhmu adalah Abu lu’lu’ah, pembantu dari al-Mughirah bin Syu’bah”.

Kemudian Umar RA berkata: “Segala puji Bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang-orang yang bersujud kepada-Nya. Wahai Abdullah bin Umar, pergilah menghadap Aisyah, mintalah kepadanya agar mengizinkan aku untuk dikubur di samping Rasulullah dan Abu bakar. Wahai Abdullah bin Umar, jika suatu kaum berbeda pendapat, maka ikutilah suara terbanyak. Dan jika mereka terpecah menjadi tiga golongan, ikutlah golongan diikuti oleh Abdurrahman, Wahai Abudllah bin Umar, panggilah manusia!”.

Kemudian Kaum muhajirin dan Anshar mendatanginya dan memberi salam untuknya. Dan Umar berkata: “Apakah petinggi-petinggi dan kelompokmu telah bermusyawarah?”.

Kemudian mereka berkata: “tidak! Kami berlindung kepada Allah”. Kemudia Ka’ab menyeruak di antara kerumunan manusia. Dan ketika Umar melihatnya, Umar berkata kepadanya:
“Ka’ab telah memberi kabar kepadaku sebanyak tiga kali. Dan tidak diragukan lagi bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan Ka’ab kepadaku adalah peringatan bahwa aku akan mati. Aku tidak takut mati. Akan tetapi, yang akau takutkan adalah rangkaian dosa yang terjadi setelah sebuah dosa (peristiwa yang melatar-belakangi pembunuhan Umar-pent).

Setelah itu Arwahnya melayang kembali kepangkuan tuhannya, Rahimahullah. Dan istana (kekuasaan) ditinggalkan untuk para Khalifah sesudahnya. Allah telah memberi jalan yang lebih baik untuk Abu Hafshah (Umar RA).

Dia adalah seorang selalu membantu da`wah islam. Dia adalah tempat kembali anak-anak yatim, dan orang-orang beriman. Dialah yang melindungi orang-orang yang lemah. Dia adalah benteng bagi orang-orang yang lurus.

Akhlaknya sungguh terjaga dan suka menolong sesama. Dia melaksanakan kewajibannya kepada Allah dengan penuh kesabaran dan penuh cinta. Sehinga Allah menolongnya dalam membela agama, dan memperlaus wilayah kekuasaan islam. Dia mengingat Allah dalam setiap pengembaraan dan dan ketika dia tersesat.

Baginya Allah adalah mata air. Dia mengingat Allah di dalam maupun luar hatinya. Dia sangat tegas atas setiap tindakan yang tidak sopan. Dia tidak pernah lupa untuk bersyukur dalam kegembiran. Dia mengingat Allah dalam setiap waktu dan detik yang dilaluinya. Semoga Allah menimpakan angkara dan laknat kepada oorang-orang yang membencinya hingga hari kiamat….

Siapa yang bisa menandingi kepribadian Abu hafsah (Umar RA dan sejarah hidupnya yang sangat agung. Atau adakah yang menyerupainya? Dalam sifatnya yang sangat keras terdapat jiwa lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada manusia dan alam sekitarnya dan diantara dua sisi hatinya di puncak ketegasannya, terdapat hati seorang ibu yang penuh kasih sayang kepada anak asuhanya. Akan tetapi cemetinya yang sangat terkenal sanggup mengalahkan pedang yang berkilat, dan telah berapa banyak jiwa yang zhalim dan keras kepala tunduk di bawah cemeti itu.

Materi Tarbiyah

Semoga apa yang disampaikan bjsa menjadi wejangan bagi kita semua.


---
Sumber: /notes/materi-tarbiyah/30-shabat-penghuni-syurga-2/145953682088448

Artikel Terkait


30 Sahabat Penghuni Syurga (2)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email