24 Agustus 2013

Sirah Nabawiyah Isra dan Mi’raj

Artikel berikut merupakan lanjutan dari beberapa artikel tentang perjalanan Rasulullah (Sirah Nabawiyah) yang sudah tayang terlebih dahulu. Kami coba refresh untuk mengingatkan pembaca, ini dia artikel sebelumnya:
Dan berikut artikel yang masih menceritakan tentang perjalanan Rasulullah di masa-masa kenabian dan kerasulan beliau.

SIRAH NABAWIYAH ISRA MIRAJ

Setelah perjuangan berat di Thaif, Rasulullah kembali tiba di Mekah. Rasulullah mendapat jamuan kemuliaan  dari Allah, penghibur hati, pengganti dari apa yang dialami Rasulullah saw. ketika berada di Thaif berupa penghinaan, penolakan, dan pengusiran. Beliau di-isra’-kan dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang berada  jauh di Palestina. Lalu, beliau menuju ke langit, menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah, bertemu dengan roh para nabi terdahulu.

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS An-Najm, 53: 17–18)

Keesokan harinya, beliau bertemu dengan kaum Quraisy dan mengabarkan peristiwa isra’ dan mi’raj. Kaum Quraisy menolaknya, mengingkarinya, mendustakannya, dan menghinanya. Abu Bakar berkata, “Aku membenarkan apa yang beliau katakan. Ini tentu mengherankan bagi kalian.” Dengan sikap Abu Bakar yang membenarkan apa yang terjadi pada Rasulullah, dia mendapat gelar Ash Shidiq, seorang yang selalu membenarkan Rasulullah. Dalam perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha, Rasulullah mendapat wahyu pelaksanaan shalat. Perintah shalat diberlakukan kepada umat Muhammad  sebanyak lima puluh kali dalam sehari-semalam, tetapi Rasulullah memohon keringanan bagi umatnya sehingga kemudian perintah shalat menjadi lima kali dalam sehari-semalam. Apabila shalat ini dilaksanakan dengan penuh iman dan ikhlas karena Allah ta’ala, pahalanya sama dengan yang lima puluh kali. (Hadits Bukhari).

Peta Lokasi Masjidilharam Dan Masjidil Aqsa.

 sirah nabawiyah isra mi'raj

Pengertian Isra dan Mi'raj

Isra berarti ‘di perjalankan pada waktu malam’. Rasulullah dituntun oleh Allah dari Masjidilharam di Mekah wilayah Jazirah Arab menuju Masjidilaqsa di Palestina arah utara dari Mekah. Palestina merupakan wilayah tua yang pernah disinggahi oleh nenek moyang Rasulullah saw., yaitu Nabiyullah Ibrahim a.s. Demikian pula kebanyakan dari para nabi sesudah Nabi Ibrahim a.s. Di tempat ini, terdapat Masjidilaqsa yang dijadikan Allah sebagai kiblat bagi umat yang bertauhid.

Di Masjidilaqsa ini pula, Rasulullah melakukan mi’raj (perjalanan ke Sidratul Muntaha). Perjalanan dari  Mekah ke Palestina yang jika ditempuh dengan kendaraan modern melalui darat menghabiskan waktu 3 hari ini, ditempuh oleh Rasulullah hanya sesaat pada malam hari. []

Artikel Terkait


Sirah Nabawiyah Isra dan Mi’raj
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email