12 Juli 2013

Mengenalkan Masjid pada Anak Sejak Dini

Masjid adalah tempat beribadah yang diperuntukkan bagi setiap muslim dari segala usia termasuk anak-anak. Namun yang kerapkali terjadi kehadiran anak-anak membuat suasana menjadi tidak tenang, sebab teriakan, tangisan, atau jalan serta lari-lari anak-anak yang ke sana ke mari. Tetapi di sisi lain, orangtua perlu mengenalkan masjid pada anak sejak dini. Semisal Ramadhan, bisa dijadikan ajang bagi orangtua di saat tarawih membawa buah hatinya ke masjid. Malam hari di bulan puasa, umumnya dijadikan oleh para kaum muslim untuk berlomba-lomba mencari pahala dengan mendatangi masjid.
Lalu bagaimana menyikapi kondisi yang dilematis ini? Sebaiknya, orangtua mencari titik-temu kedua sisi dilema di atas. Orangtua bisa membawa anak-anaknya sekaligus tenang beribadah. Awali mengenalkan masjid pada anak-anak kita dengan memperlihatkan suasananya, menurut psikolog dra Evita MPsi kepada harian Republika menyebutkan, "Pada usia dua tahun, anak-anak sudah bisa memulai untuk memahami fungsi dan adab pergi ke masjid." Pasalnya, di usia tersebut, anak kecil sudah memiliki kemampuan mengenali lingkungan sekitarnya serta mampu mengamati ritual keagamaan dengan baik.

Memang betul, di usia dua tahun anak-anak tidak memahami esensi shalat berjamaah akan tetapi dengan mengenalkannya anak-anak bisa langsung praktek mengerjakan shalat berjamaah yang sekaligus menjadi proses pembelajaran bagi anak. Pola belajar anak yang bersifat faktual bukan sekadar abstrak menjadi alasan lain bagi mereka untuk melihat serta mendengar tata cara shalat tarawih yang dilakukan di masjid hanya sekali dalam setahun.

Untuk itu orangtua perlu memahami bahwa di usia dua tahun anak-anak sangat memiliki sifat yang egosentris. Lumrah saja bila setelah di masjid, yang terjadi mereka rewel, atau menangis saat mengikuti orangtuanya ke masjid. Cara yang terbaik adalah orangtua cukup membawa anak-anak sesekali saja untuk tarawih ke masjid, sebab dikuatirkan malah akan mengganggu jalannya peribadatan pada malam hari di bulan Ramadhan.

Tahun depan cara mengenalkan tersebut di atas bisa para orangtua ulangi kembali. Di usia anak yang menginjak tiga tahun, anak-anak lebih memahami tentang adab di lingkungan masjid. Meskipun anak-anak sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan masjid di saat melaksanakan tarawih, tetap saja shalat tarawih masih terbilang lama untuk ukuran anak kecil umur tiga tahun.

Biasanya anak umur tiga tahun akan merasa bosan dan ingin bermain-main dengan mainan kegemarannya. Oleh sebab itu, sebaiknya setelah shalata isya berjamaah di masjid, anak-anak dibawa pulang saja atau minta dijemput oleh anggota keluarganya yang tengah tidak shalat.

Kapankah anak-anak akan merasa perlu melaksanakan shalat tarawih dengan durasinya yang cukup panjang itu? Menurut dosen Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini menjelaskan bahwa di saat anak berusia lima tahun, mereka akan memiliki respons positif terhadap durasi shalat tarawih yang tidak pendek itu. Orangtua sudah bisa leluasa untuk mengajak shalat tarawih secara berdampingan dengan makmum lainnya.

Meskipun usia lima tahun sudah bisa beradaptasi dengan baik mengenal adab di masjid, saat anak terlihat lelah orangtua bisa menawarkan kepada mereka untuk istirahat sejenak, seperti tidur-tiduran di samping orangtuanya. Anak-anak berumur lima tahun, seiring dengan waktu akan terbiasa dan siap dengan suasana shalat tarawih sehingga masalah durasi tidak menjadi masalah lagi bagi mereka.

Namun, yang tetap harus diingat oleh para orangtua, menjaga kesehatan anak-anak. Sesuaikan porsi jam tidur dan jam istirahat anak-anak, jangan membiarkan anak-anak terjaga terlalu lama padahal sudah waktunya untuk tidur.

Artikel Terkait


Mengenalkan Masjid pada Anak Sejak Dini
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email