26 Juli 2013

Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Dalam syariat Islam, selain puasa wajib di bulan Ramadhan, kaum muslim pun diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Puasa sunah ini memiliki banyak keutamaan, di dalam hadits Qudsi Allah Swt berfirman, "Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untukKu dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)." Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi." [HR. Muslim (hadits no: 1151, KitabusSiyam; Bab keutamaan berpuasa)]


Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal - Puasa 6 hari di bulan Syawal memiliki dalil yang shahih.

(مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه مسلم

“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.” [HR. Muslim (hadits no: 1164, Kitabussiyam; Bab disunnatkan berpuasa enam hari dari bulan Syawal)]

Sebagian orang meragukan hadits berpuasa 6 hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits. Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.
“Hadits berpuasa 6 hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa 6 hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.” Oleh karena itulah Hadits berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.

Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal 2 Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah 6 hari ini pada tanggal 1 Syawal maka hukumnya haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata, “Nabi Muhammad Saw., melarang berpuasa pada dua hari raya; idul fitri dan idul adha.(maksudnya tanggal 1 Syawal/ 10 bulan Dzulhijjah - red).” (HR. Bukhari, No: 1991; Kitab as-Shaum; Bab berpuasa pada hari Aidil Fitri)

Praktek berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa di bulan Ramadhan, boleh bersahur dan berhenti sahur saat waktu imsak. Perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun apabila merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133, sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Allah berfirman, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”.

Demikian saja sekilas tentang Berpuasa 6 Hari di Bulan Syawal. Ingat, tidak ada lagi hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha, jadi pembaca setelah melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal takusah lagi merayakannya dan mengucapkan selamat hari raya. []

------
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas (bahasa Melayu); Mutawatir (b. Arab: متواتر, mutawātir) ialah kata serapan bahasa Arab yang bermaksud "diturunkan daripada seorang ke seorang". Istilah ini digunakan dalam pengajian Ulum al-Quran dan Mustalah Hadith. Hadis Mutawatir ialah nas hadis yang diketahui/diriwayatkan oleh beberapa orang yang sampai menyampai perkhabaran (Al-Hadis) itu, dan telah pasti dan yakin bahawa mereka yang sampai menyampai tersebut tidak bermuafakat berdusta tentangnya. Ini kerana mustahil terdapat sekumpulan periwayat dengan jumlah yang besar melakukan dusta.

Hadis Mutawatir, iaitu hadis yang memiliki banyak sanad dan mustahil perawinya berdusta atas Nabi Muhammad saw, sebab hadis itu diriwayatkan oleh banyak orang dan disampaikan kepada banyak orang. Contohnya, "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya dalam neraka." (H.R Bukhari, Muslim, Ad Darimi, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi,. Abu Ha'nifah, Tabrani, dan Hakim).

Menurut para ulama hadis, hadis tersebut di atas diriwayatkan oleh lebih dari seratus orang sahabat Nabi dengan seratus sanad yang berlainan. Oleh sebab itu jumlah hadis Mutawatir tidak banyak. Keseluruhan daripada ayat-ayat al-Quran adalah mutawatir, manakala terdapat sebahagian hadis sahaja yang mutawatir. Hadis yang tidak mencukupi syarat-syarat mutawatir dikenali sebagai Hadis Ahad.

Hadis Mutawatir terbagi dua:

  • Mutawatir Lafzi, yakni perkataan Nabi,
  • Mutawatir Amali, yakni perbuatan Nabi.


Artikel Terkait


Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email