Perlu bantuan tulisan untuk promosi event atau produk?
Hubungi kami via:
email: risyadsamawa[at]gmail.com
0857.2110.9590 (WhatsApp)
0896.5141.5992 (SMS) atau 753F7460 (BBM)

04 Maret 2015

3 Karakteristik Orang Zuhud

Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau perbaiki orang lain. Setiap kau perbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. 
“Hidup di dunia bagaikan ular berbisa yang lembut sentuhannya dan racunnya akan mematikan. Berhati-hatilah hidup di dunia yang penuh pesona, rayuan dan godaan.” IMAM HASAN BASHRI R.A.
 3 Karakteristik Orang Zuhud
Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah dia yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib terbuka dan mata menangis.”

3 Karakteristik Orang Zuhud.
  1. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, menerima apa yang ada, juga tidak merisaukan segala sesuatu yang tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja, karena bekerja adalah mencari rizki, sedangkan mencari rizki, suatu kewajiban.
  2. Pujian dan celaan adalah hal yang sama, tidak bergembira bila mendapat pujian, juga tidak bersedih jika mendapat celaan atau hinaan.
  3. Mengutamakan ridho Allah Swt. dari pada ridho manusia atau merasa tenteram jiwanya bersama Allah swt dan merasa bahagia sebab dapat mentaati semua tuntutannya.
“Hidup di dunia bagaikan ular berbisa yang lembut sentuhannya dan racunnya akan mematikan. Berhati-hatilah hidup di dunia yang penuh pesona, rayuan dan godaan.” IMAM HASAN BASHRI R.A. []
Read more ...

03 Maret 2015

Belajar Memahami 4 Macam Pemberian

Syahdan di Kairo negeri seberang benua Afrika dan Timur Tengah ... Hiduplah seorang Syekh yang alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman. Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. 
Belajar Memahami 4 Macam Pemberian
Belajar Memahami 4 Macam Pemberian
Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya. Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar, “Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

Syekh yang alim dan bijak itu menjawab,“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”. 

Belajar Memahami 4 Macam Pemberian 
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun. Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. 

Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…....uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. 

Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah Arrozzaq, “Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelapa ran. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”. 

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung. Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya,“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab,“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku,“Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.

Belajar Memahami 4 Macam Pemberian 
Sang guru melanjutkan pelajarannya. Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam:
  1. Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.
  2. Temanmu di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.
  3. Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.
  4. Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.
Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja. Jadikanlah semua ini pelajaran, wahai.. Ananda!

Semoga bermanfa'at.
Read more ...

26 Februari 2015

Madu dan Alquran Sebagai Media Penyembuh

Adalah Abdul Manaf Bin Mohd Yasir - seorang warga Singapura mencoba mencari solusi dengan bertanya atas penyakit yang dideritanya kepada redaksi salah satu portal yang kami kelola; Individualis.Me. Isi pertanyaanya sebagai berikut. 
Aswbm Saya berusia 51 tahun. Warga Singapura. Walapun sudah 4 tahun menghidapi diabetes jenis 2 dan lumpuh pada bahagia kanan tubuh, Allah masih menyayangi saya. Bagaimana harus saya atur jadual pembacaan Al-Quran dalam sehari? Mohon saranannya. Terima kasih. Wslm
Madu dan Alquran sebagai Media Penyembuh
Madu dan Alquran sebagai Media Penyembuh
 
Untuk menjawab pertanyaan Abdul Manaf di atas, silakan simak uraian berikut ini.
Agama Islam memerintahkan untuk semua pemeluknya agar mengamati alam sekitar; baik langit dan bumi serta meneliti beberapa ciptaan Allah. Agama Islam pun takmenentang penelitian secara ilmiah. Salah satu bentuk penelitian ilmiah dengan adanya ilmu kedokteran. Islam mengajarkan pengikutnya agar berhati-hati (mencegah) terhadap suatu mudharat. Hal tersebut juga terdapat dalam dunia medis dengan istilah pencegahan (preventif).

Tidak hanya pencegahan, dunia pengobatan juga mendapat porsi perhatian yang cukup besar dari Rasulullah. Dalam kitab-kitab hadist, banyak hadits yang menganjurkan kaum muslimin untuk melakukan pengobatan bahkan membimbingnya untuk melakukan terapi pengobatan untuk penyakit tertentu. Rasulullah bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu mengenai penyakit, atas izin Allah ia akan sembuh”.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Kesembuhan ada pada tiga hal , yaitu; meminum madu, menggoreskan pembekam, dan pengobatan kay (besi yang dipanaskan). Saya melarang umatku dari pengobatan dengan kay (besi yang dipanaskan”. Artinya, metode pengobatan menggunakan kay adalah pilihan terakhir.

Ketika menerangkan hal itu, Nabi tidak didorong oleh hawa nafsu melainkan karena beliau telah mendapat wahyu dari Allah. Berdasarkan hadits itu madu berada di posisi pertama dalam daftar pengobatan. Pernyataan Nabi ini mutlak bagi kesembuhan seluruh penyakit-bukan hanya khusus penyakit tertentu. Pernyataan tersebut juga menegaskan keampuhan madu dalam menyembuhkan semua penyakit, tentunya dengan izin Allah.

Bukhari serta Muslim meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri bahwa seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya perut saudaraku kembung (istithlaq = diare)”. Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Minumkan madu untuknya”. Ia pun memberi saudaranya madu. Lelaki itu datang lagi kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah memberinya madu, tetapi hal itu hanya membuatnya semakin kembung”. 

Madu dan Alquran sebagai Media Penyembuh
 
Kemudian Nabi berkata, “Pergilah, lalu beri ia madu”. Lelaki itu pun pergi dan memberi saudaranya madu. Kemudian ia datang lagi lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah memberinya madu, tapi hal itu justru membuatnya semakin kembung”. Maka Rasulullah kembali bersabda, “Mahabenar Allah dan perut saudaramu itu bohong. Pergilah dan beri ia madu”. Maka lelaki itu pun pergi dan memberinya madu, lalu saudaranya pun sembuh.

Hadist di atas memiliki arti penting, antara lain:
  1. Madu adalah obat (asy-syfa) bagi banyak penyakit. Perhatikan, Rasulullah tidak mendiagnosis si pasien, bahkan saudaranya yang mengadu kepada Rasulullah memberinya resep dengan madu. Seandainya madu penyembuh bagi penyakit tertentu saja, tentu Rasulullah akan memeriksa terlebih dulu jenis penyakit lelaki tersebut sebelum memberinya resep dengan madu.
  2. Untuk sembuh, madu membutuhkan waktu dalam mengobati pasien. Rentang waktu kesembuhan tergantung dari jenis penyakit dan kondisi pasien. Hal ini dapat kita lihat dari bolak-baliknya saudara si sakit kepada Rasulullah hingga akhirnya si sakit sembuh.
Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, dalam sebuah hadist marfu’ yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa minum sesendok madu tiga kali setiap bulannya maka ia tidak akan terkena penyakit yang besar”.

Dalam hadist tersebut ada isyarat pentingnya mengonsumsi madu secara berkesinambungan. Madu dapat memberikan kekebalan (imunitas) sehingga tubuh memiliki pertahanan terhadap penyakit. 

Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian menggunakan dua obat yaitu madu dan Al-Qur’an”. (H.R. Ibnu Majjah)

Dan dunia kedokteran pun sudah mengakui banyak sekali manfaat yang diberikan dari pengobatan dengan menggunakan madu. Dan klinik kami salah satu klinik yang menggunakan madu sebagai terapi pengobatan yang diberikan terhadap pasien.
 
Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 68-69 yang artinya. “Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah, ‘buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia’. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Seseungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan”.

Allah memuliakan lebah dalam Al-Qur’an. Penghargaan Allah ini mencapai puncaknya ketika Dia mengkhususkan sebuah surat dalam Al-Qur’an yang bernama surat An-Nahl. Membaca surat An-Nahl akan membuat akan dan hati kita mendapat pencerahan berupa pengetahuan dan hikmah ilahi. Dalam setiap ayat ini memuat dalil tentang berbagai nikmat Allah yang tiada terhitung.
Madu dan Alquran sebagai Media Penyembuh
Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 18 yang artinya. “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscata kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Ayat tersebut menjadi bukti sekaligus hujah bagi mudahnya manusia memanfaatkan ciptaan Allah di muka bumi. Dimulai dari turunnya hujan, diletakkannya lautan dan sungai, hingga segala sesuatu yang tersembunyi di dalam tanah dan pegunungan. Semua ini terwujud dalam bentuk yang jelas dan nyata sebagai bentuk keagungan Sang Khaliq.

Dia menundukkan semua binatang melata, burung-burung, serangga, tetumbuhan dan semua yang ada di muka bumi untuk manusia. Oleh karena itu, hendaklah manusia melihat lebah, darinya akan kita mengetahui manfaat, kerja keras dan ketangguhannya. Di dalamnya terkandung hikmah dalam penciptaan lebah dan madu yang dihasilkan.
Pembaca ... Mari kita memulai hidup sehat secara alami dengan madu dan membaca Alquran. Pembaca bisa meminum Madu Tropis Brazil yang bisa diperoleh di tempat kamu. Untuk informasi lebih lanjut hubungi layanan customer service kami 0857-2110-9590 (SMS dan WA) atau 753F7460 (BBM)
Read more ...

15 Februari 2015

Peran Rasulullah Saw. Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang

Peran Rasulullah Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang - Mengkaji artikel dari majalah Oase terdapat sebuah literasi yang bisa menjadi renungan kita semua sebagai umat Islam dalam meneladani Rasulullah Saw.

Peran Rasulullah Saw. Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang

Peran Rasulullah Saw. Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang
Artikel dengan judul asli, "Mendahulukan Kepentingan Rakyat" ini diawali dengan informasi bahwa di akhir misi sucinya, Rasulullah Saw., dapat menyaksikan pencapaian yang telah beliau raih bersama dengan para sahabat-sahabat mulia. Islam telah menyebar dan diterima manusia di banyak tempat. Kepada para penguasa di jazirah Arab, Rasulullah Saw., telah mengirimkan surat berupa ajakan untuk memeluk Islam sebagai agama terakhir untuk mereka yakini. 

Sebagian mereka (penguasa di jazirah Arab) ada yang menerima ajakan tersebut, ada yang menghormatinya, dan ada pula yang membunuh utusan yang diperintahkan Rasulullah Saw. Akan tetapi sejarah mengatakan, tidak ada nabi atau rasul yang menyaksikan dakwah dan risalah yang diembannya berkembang dan berjaya kecuali Rasulullah; Muhammad Saw. 
Ghanimah (rampasan perang) melimpah rumah di baitul maal kaum muslimin. Belum lagi dari jizyah; pajak perlindungan yang dibayarkan oleh non muslim kepada penguasa muslim. Kaum muslim dan non-muslim benar-benar merasakan kedamaian di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw. Kendati harta benda dan kekuasaan berada di tangan Rasulullah Saw., tetapi beliau tetap mendahulukan kepentingan umat.
Seiring dengan kejayaan Islam, tentu saja harta benda, hasil ghanimah (rampasan perang) melimpah rumah di baitul maal kaum muslimin. Belum lagi dari jizyah; pajak perlindungan yang dibayarkan oleh non muslim kepada penguasa muslim. Kaum muslim dan non-muslim benar-benar merasakan kedamaian di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw. Kendati harta benda dan kekuasaan berada di tangan Rasulullah Saw., tetapi beliau tetap mendahulukan kepentingan umat. Bahkan untuk orang yang paling dicintainya, Rasulullah Saw., takpernah sedikitpun menyisihkan secara khusus.

Pernah suatu hari Fatimah radhiyallahu anha, putri Rasulullah Saw., datang ke rumah beliau. Dengan tujuan untuk 'curhat', Fatimah seringkali mendatangi ayahnya tercinta - Rasulullah Saw. senantiasa menyambutnya dengan senang dan penuh sukacita. Takjarang Rasulullah menyeka keringat yang ada di kening atau pipi anaknya. Keadaan ini menunjukkan kecintaan Rasulullah Saw. yang tiada terhingga kepada anaknya terlebih lagi Fatimah tinggal anak semata wayang - karena anak-anaknya yang lain telah wafat.

"Ayah banyak sekali mulut yang harus aku suapi; ada suami, ketiga anak-anak kami, empat kemenakan, belum termasuk  tamu-tamu yang datang tiada henti silih berganti ke rumah kami. Aku harus melayani mereka; memasak makanan dan menyediakannya. Aku lelah, ayahanda ...." ucap Fatimah dengan nada sendu mencurahkan keluh kesah kepada ayahnya.

Fatimah kemudian melanjutkan curhatannya, "Aku mendengar kabar, banyak sekali kita-umat islam- mendapatkan tawanan wanita, dan mereka sudah berada di Madinah. Jikalah berkenan, Ayah memberikan kepadaku seorang wanita untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan rumahku untuk mengurangi bebanku. Hal ini akan sangat membantuku, ayah ... "

Peran Rasulullah Saw. Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang

Mendengarkan curhatan sang buah hati tercinta, Rasulullah Saw. dengan penuh kasih sayang, beliau menjawab, "Fatimah, anakku sayang ... Ayah mengerti sekali apa yang sedang kau rasakan. Akan tetapi semua harta ghanimah dan tawanan perang yang engkau saksikan tersebut sama sekali bukan milik ayah tapi miik seluruh kaum muslimin. Ayah hanya bendahara saja, tugasku hanya mengumpulkan saja lalu aku bagikan kepada mereka-mereka yang berhak. Dan engkau, wahai anakku ... Bukanlah orang yang memiliki hak itu, maaf sekali ayah takbisa memberimu harta milik negara ini sedikitpun."

Mendengar penjelasan sang Ayah, perempuan yang menjadi pemimpin perempuan di surga - Fatimah ra., sama sekali tidak memiliki perasaan kesal akan tetapi menerima apa yang diucapkan oleh sang ayah, Baginda Rasulullah Saw.

Betapa agungnya akhlak Rasulullah Saw., meskipun terhadap putrinya yang sangat dicintai yang tengah dirundung kesulitan dalam menjalani kehidupan rumah tangganya itu Rasulullah Saw. takmemenuhi permintaan anaknya dengan harta yang sebenarnya bisa dengan mudah beliau berikan. Dengan mengemban amanat harta milik negara tersebut, beliau lebih mementingkan rakyat daripada keluarganya.

Apa yang menjadi milik rakyat, harus dikembalikan kepada rakyat padahal Rasulullah Saw. memegang tampu kekuasaan tertinggi di negara kota Madinah. Begitu pula dengan Fatimah ra. walaupun sebagai putri seorang Rasul yang tengah menguasai negara, istri dari sayidina Ali ra. ini benar-benar tahu diri dengan tidak memaksa ayahnya untuk memberikan harta yang diramut ayahnya sedikitpun atas nama 'kasih sayang' atau 'keturunan'. Mengetahui betapa besarnya tanggung jawab sang ayah, Fatimah Azzahra betul-betul faham sehingga penolakan sang ayah takmenjadikan sakit hati bagi dirinya.

Pembaca, dengan kisah Peran Rasulullah Saw. Sebagai Bendahara Harta Rampasan Perang semoga bisa menjadi cerminan bagi kita semua. Seorang pemimpin sepatutnya mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya atau keluarganya. Kekayaan negara disebar dengan adil dan merata tanpa harus menyisihkan sedikitpun untuk diri atau keluarganya yang tiada hak atas harta tersebut.  
Read more ...

22 Januari 2015

Pemimpin Harus Jeli!

Kita tahu bahwa setiap orang yang memiliki potensi khusus itu bisa menjadi modal awal dan cukup untuk menjadi seorang pemimpin. Akan tetapi guna menjadi pemimpin terbaik diperlukan sekali modal lainnya. Apakah itu?
Setiap orang apabila ingin menjadi pemimpin terbaik harus memiliki kejelian melihat dan mengasah potensi diri setiap bawahannya. Setiap pemimpin harus memiliki keyakinan bahwa masing-masing anggota atau anak buahnya memiliki potensi diri dan kekhususan. 

Pemimpin Harus Jeli!
Dengan ketajaman dan kejelian, seorang pemimpin senantiasa mampu menempatkan anak buahnya pada posisi yang tepat, sesuai dengan kompetensinya. Apabila hal ini terjadi pada sebuah lembaga atau komunitas maka di sana akan nampak progresif.

Kejelian Rasulullah Saw Menilai Salman Alfarisi

Saat terjadi perang Khandaq, Rasulullah menunjukkan kejeliannya, beliau melihat potensi yang dimiliki sahabatnya; Salman Alfarisi. Perang Khandaq atau Perang Ahzab ini juga dikenal dengan perang pengepungan. Di sinilah awal strategi pembuatan parit yang diinisiasi oleh Salman Alfarisi. Tujuan dari Salman sang ahli berkuda membuat parit adalah agar bisa menghindari serbuan langsung dari pasukan Quraisy dan Bani Nadir. Dengan strategi ini Rasulullah bersama pasukannya memenangkan peperangan yang terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi (27 hari).

Pemimpin Harus Jeli!

Demikian sekilas ilustrasi tentang perlunya kejelian dari seorang pemimpin terhadap bawahan atau anak buahnya. Ketahuilah setiap bawahan memiliki keunikan dan ciri khusus. Potensi serta kemampuannya juga sudah barang tentu berbeda-beda. Maka, di sinilah seorang pemimpin dituntut mampu menajamkan penglihatannya guna menyaring potensi anak buah sehingga bisa tersalurkan dan terangkat secara maksimal. Intinya Pemimpin Harus Jeli!

Hal tersebut di atas tentunya akan sangat bermanfaat bagi kepentingan komunitas, lembaga atau institusi sehingga bisa maju dengan mulus.
Read more ...

16 Desember 2014

Wanita Inggris Banyak Memeluk Islam

"Sesungguhnya engkau (muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al Qashash/28: 56).
Setiap tahun, rata-rata 5 ribu orang Inggris memeluk Islam. Namun, yang mengeherankan masyarakat setempat memotret Islam sebagai terorisme dan ekstremisme.

Adalah Catherine Haseltine berusia 31 tahun, mengetahui betul apa yang akan dihadapinya saat memutuskan untuk meninggalkan agamanya lalu memeluk Islam. Menurutnya, tidak semua orang di sekitarnya percaya akan keputusannya tersebut.

Wanita Inggris Banyak Memeluk Islam
Catherine Haseltine, 31 tahun

Catherine termasuk wanita yang berpengaruh di Inggris, seperti halnya Laurent Booth yang notabene adik ipar dari Tony Blair. Saat ini Catherine adalah kepala organisasi muslim Inggris, the Muslim Public Affairs Committee.

"Ada perasaan bahwa sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan seorang muslim adalah seorang mualaf karena mereka dianggap sebagai seseorang yang berseberangan, secara umum saya berpikir menjadi mualaf justru semakin meningkatkan rasa ingin tahu daripada mencari permusuhan."

Catherine Haseltine hanya satu dari kebanyakan wanita di Inggris yang memutuskan menjadi muslimah. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah populasi pemeluk Islam di Inggris meningkat menjadi dua kali lipat. Melansir sebuah lembaga tink tank di Inggris, menyebutkan bahwa warga Inggris yang memutuskan menjadi mualaf hampir 5 ribu orang per tahun.

Lembaga survey Faith Matters mengumumkan hasil jajak pendapat yang sudah dilakukannya. Di Inggris Raya, 1.400 orang memeluk Islam di kota London. Menurut hasil survey juga disebutkan bahwa setiap tahunnya ada 5.200 orang yang memeluk Islam. Angka yang layak juga untuk dibandingkan dengan perkembangan agama Islam di Perancis dan Jerman.

Tidak Ada Kaitannya dengan Terorisme dan Ektremisme

Sebagai hasil dari survey pula, sebagaimana media melaporkan berupa potret dan catatan bahwa lebih dari 62% berita dan artikel yang menyangkut warga yang beralih memeluk Islam senantiasa dikaitkan dengan terorisme dan ektremisme. Namun, faktanya masyarakat Inggris yang memeluk Islam hanya dengan niat ingin diterima dalam lingkungan Islam berlabel terorisme itu sedikit dibandingkan dengan mereka yang berniat memeluk Islam dengan penuh keyakinan diri. Bahkan mereka siap menghentikan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk resiko yang akan dihadapi berupa tantangan kehilangan keluarga dan kolega, memulai adaptasi dengan hal-hal baru.

Jadi saat ini dengan sekitar 2,7 juta warga muslim yang bermukim di Inggris jumlahnya terus meningkat secara siginfikan dari kalangan wanita, semisal Catherine Haseltine dan masih banyak wanita Inggris lainnya ... [] Sumber: Jalan Hidayah, rubrik Inilah Koran (16/12)   
Read more ...

02 Desember 2014

Fadhilah Alquran: Sebagai Petunjuk

Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya Alquran dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya, yang artinya, "Dahulu kamu (Muhammad) tidak mengetahui apa itu alkitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian kami hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki." (QS. Asy-Syura:52)

Ibnu Qayyim ra berkata, "... Dan sesungguhnya hal itu, yaitu Alquran dan Iman merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada akekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya, selain ilmu tentang keduanya," (Al'ilmu, fadhluhu wa syarafuhu - hal. 38).

Allah Swt., berfirman, yang artinya, "Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang." (QS. An-Nisaa': 174) 

Allah Swt., berfirman, yang artinya, "Ali Lam Mim. Inilah kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 1-2)

Fadhilah Alquran: Sebagai Petunjuk

Allah Swt., berfirman, yang artinya, "Ali Lam Mim. Inilah kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 1-2)

Allah Swt. juga berfirman, yang artinya, "Sesungguhnya Alqurn ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasannya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar." (QS. Al-Israa': 9)

Oleh sebab itulah merenungkan ayat-ayat Alquran merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah Swt. juga berfirman, yang artinya, "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad: 29)

Allah Swt. juga berfirman, yang artinya, "Apakah mereka tidak merenungi Alquran, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?" (QS. Muhammad: 24)

Allah Swt. juga berfirman, yang artinya, "Apakah mereka tidak merenungi Alquran, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan." (QS. An-Nisaa': 82)

Ibnu Abbas ra berkata, "Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat." Kemudian Ibnu Abbas ra membaca ayat di atas (An-Nisaa': 82), seperti termaktub dalam Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah; membenarkan berita yang datang dari-Nya, tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, mematuhi perintah, dan tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu.

----
Sumber: rubrik Tadarusan, Inilah Koran (2/12)   
Read more ...

07 November 2014

3 (Tiga) Hal Menutup Jalan Kebaikan

3 (tiga) Kata yang harus kita hindari untuk diucapkan karena akan menutup beberapa jalan menuju kebaikan. Maka supaya berhati-hati ...  Inilah 3 (Tiga) Hal Menutup Jalan Kebaikan ...

3 (Tiga) Hal Menutup Jalan Kebaikan

1. Saya Tidak Bisa (I Can't)

Ketika kita berkata "Saya Tidak Bϊsa", maka pintu pikiran kita tertutup untuk mencari solusi & berusaha atau mencoba sesuatu. Sebaliknya jika kita berkata "Saya Bisa", perkataan ini akan membuat otak kita bekerja mencari jalan dari setiap hal yang dihadapi. Karena الله jelas-jelas menjamin, selalu terdapat kemudahan di balik setiap kesulitan.

2. Tidak Mungkin (Impossible)
Jika kita sering berkata "Tidak Mungkin" berarti kita akan menutup berbagai pintu keajaiban. Dengan sikap seperti ini kita akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena hampir segala sesuatu yang dinikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil pada hari kemarin. Selalu ada mu'jizat setiap hari, bagi kita yang percaya pada Kuasa الله. Bukankah الله pun menjamin, bahwa الله bisa saja memberikan segala sesuatu dari arah yang tidak kita sangka?

3. Saya Sudah Tahu (I Know)
Setiap kali kita mengucapkan bahwa "Saya Sudah Tahu", sebenarnya kita sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru. Padahal dalam kehidupan selalu akan ada hal baru yang dapat kita pelajari. Bukankah menuntut ilmu itu terus dilakukan sampai di tepian liang lahat?

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath-Thalaq 4)

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang selalu pandai bersyukur, takletih belajar, selalu berbaik sangka atas semua kehendak-Nya dan cermat memetik hikmah dari setiap kejadian.

سُبْحَانَ اللّهُ

- Sumber: kiriman Whatsapp teh Intan Ratnagalih -
Read more ...

Google+ Badge

Tertarik Berlangganan Artikel dari Kami? Masukkan email jangan lupa di-verifikasi:

Delivered by FeedBurner


Yuk Ikuti Kami di G+